Selfie Dari Kata Sampai Kebudayaan tulismenulis.com

Selfie Dari Kata Sampai Kebudayaan

Non Fiksi, Opini

Usia kata Selfie baru kemarin sore. Kata ini berasal dari Australia dan mulai digaungkan di dunia online pada awal 2002 dalam sebuah forum internet Australia (ABC Online).  Oxford English Dictionary versi daring secara resmi mencantumkannya pada tahun 2013 dan menobatkannya sebagai word of the year pada tahun yang sama.

Tak bisa dilepaskan, tren pemakaian kata ini kian tumbuh seiring kegemaran wisatawan yang mana bagi mereka hal terpenting ketika mengunjungi obyek-obyek wisata seperti, pantai, gunung, candi, pusat pertokoan atau tempat wisata lainnya adalah memotret diri sendiri dan kemudian menyebarkannya dalam berbagai media sosial. Tentu ini sejalan dengan pengertian dalam kamus Oxford yang berarti foto yang diambil dan berisi diri sendiri, biasanya melalui ponsel pintar dan kemudian diunggah ke media sosial di internet. Definisi ini juga tak jauh beda dengan referensi pustakawan Britania dimana selfie adalah sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui Smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial. Dengan begitu sudah dapat diterka bahwa selfie dihubungkan dengan perkembangan teknologi beberapa tahun terakhir ini. Terlebih diperkuat oleh Dr. Mariann Hardey yang mengatakan selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan sengaja memamerkan foto dirinya ke jejaring sosial atau media lainnya.

Meski jelas definisinya dalam kamus Oxford, oleh beberapa pemakai, kata ini sering diartikan secara tak utuh. Pengertian yang umum dipahami adalah hanya sebatas aktivitas memotret diri sendiri atau narsisme. Bahkan lebih salah lagi mereka yang menganggap selfie sebagai foto diri yang diambil orang lain dan atau foto yang berisi lebih dari satu orang. Contoh kasus dimana beberapa portal berita memberi judul headline “Selfie Berujung Maut” sewaktu lalu ada pendaki yang terjatuh di kawah gunung merapi padahal yang memfoto pendaki tersebut adalah orang lain.

Sayangnya, kemungkinan besar pemahaman secara tak utuh inilah yang kemudian memunculkan kata swafoto dalam bahasa Indonesia sebagai padanan kata selfie. Memang secara etimologi kata selfie dibentuk dari kata self yang berarti diri sendiri. Dalam morfologi, proses ini termasuk afiksasi (Yule, 2010). Selfie juga merupakan singkatan dari Self-Portrait yang berarti potret diri sendiri. Pun sama halnya dengan kata swafoto, secara etimologi dibentuk dari suku kata swa dan foto dimana suku kata swa dari bahasa sansekerta sva berarti “aku sendiri” dan foto dari bahasa yunani/inggris/belanda yang berarti “potret” sehingga penggabungan keduanya memiliki arti yang sama dengan self-portrait yaitu potret aku sendiri. Akan tetapi swafoto dalam hal ini hanya merupakan terjemahan hurufiah dari self-portrait yang mana kemudian bukan merupakan kata kerja melainkan kata benda sehingga akibatnya melenceng dari bentuk terminologinya yaitu potret diri sendiri dengan memotret sendiri.

Meski kata swafoto belum banyak terdengar dan terpakai sementara kata selfie akan sangat cepat mengakar di Indonesia, setidaknya mencari alternatif lain adalah perlu mengingat fenomena selfie (terlebih di obyek-obyek pariwisata) telah menjadi bagian dari kebudayaan populer yang barangkali pun segera dianggap bagian dari kosakata Indonesia. 2015. (Irma Agryanti, Pemerhati Bahasa).  


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *