Senjata Ampuh

Non Fiksi, Opini

senjata ampuh

Manusia dianugerahkan kecerdasan untuk menghasilkan dan menciptakan sesuatu yang berguna dan bernilai. Namun kecerdasan itu telah salah dipergunakan oleh sekelompok orang cerdas yang menamakan dirinya kelompok jihad dalam islam yang tak lain adalah teroris. Mereka memanfaatkan alat dahsyat hingga mampu menghancurkan Negara bahkan dunia. Mereka seakan tak kenal rasa takut dengan sangsi dunia yang dijatuhkan oleh Negara, hingga suatu ketika beberapa orang teroris tertangkap di kabupaten Bima dengan tuduhan meracik bom membunuh dan lain-lain.

Setelah kejadian penangkapan dikabupaten Bima tersebut, semua pelaku teroris kemudian dipindahkan ke lapaz Mataram untuk diamankan dan dimintai keterangan sebelum dipindahkan ke Jakarta dan Nusa Kambangan.

Selama berada di Lapaz Mataram dengan penjagaan ketat oleh polisi, Brimob, para pelaku teroris diintrogasi dengan keadaan tangan terikat dan mata mereka ditutup oleh kain sambil diberi beberapa kali hantaman benda ketika mereka tidak mau menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan polisi, mereka diestrum, dipukuli bahkan hingga tangan mereka disilet, kuku mereka dicabut dan lain-lain. Namun apa yang terjadi? Hukuman tersebut seperti tak ada jeranya bagi mereka, bahkan mereka tetap saja bungkam dan tak mau menjawab dan berterus terang kepada polisi. Otak mereka seakan telah membeku akibat efek doktrin yang didapat selama masih berkelompok dengan anggota teroris lainnya, polisi telah kualahan menghadapi tersangka teroris tersebut, hingga suatu ketika pada jam makan siang, beberapa polisi yang mengantarkan sebungkus nasi kepada salah satu tersangka teroris, awalnya ia tidak mau memakan nasi tersebut walaupun dengan suapan dari polisi, ia tetap saja acuh bahkan meludahi nasi tersebut. Polisi yang bertugas tersebut kemudian membentak teroris tersebut dengan beberapa kata yang mengingatkan teroris tersebut dengan keluarganya terutama ibu dan anaknya, hal tak terduga pun terjadi yang tadinya ia tak jera bahkan sama sekali tak mengeluh sakit dengan hantaman benda dari polisi, namun dengan kata-kata yang mengingatkan tentang keluarganya malah membuat teroris tersebut menangis seperti anak kecil yang ditinggal ibunya, ia merintih sedih bahkan seperti lelaki yang amat tak berdosa dan tak berdaya. Semua polisi dan orang-orang yang melihat kejadian tersebut terheran-heran bahkan menyentuh hati yang melihat peristiwa tersebut. Akhirnya teroris tersebut berkata bahwa jika ia membongkar rahasia komunitasnya, maka taruhannya adalah keluarga mereka tidak akan pernah aman, itulah salah satu penyebab mengapa pola teroris enggan berterus terang, karena dalam hati nurani manusia pasti dianugerahkan rasa cinta dan kasih saying terhadap keluarga dan rasa kekhawatiran terhadap keluarga.

Oleh karena itu, kejadian tersebut akhirnya menyadarkan kita bahwa senjata tidak selamanya dapat menimbutkan rasa takut, benar kata pepatah. Lidah lebih kejam daripada silet.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *