SEUNTAI PESAN CINTA BUAT FATIMAH

Cerpen, Fiksi

SEUNTAI PESAN CINTA BUAT FATIMAH

SEUNTAI PESAN CINTA BUAT FATIMAH

Dengan setengah terkejut, Iqbal terbangun dari tempat tidurnya. Walau masih merasa agak pusing ia berusaha melawannya. Matanya ia kucek-kucek berharap bisa sedikit tersadar. Pandangannya ia tujukan pada jam dinding warna emas yang tergantung cantik pada dinding kamarnya. “Subhanallah, sudah pukul empat sore. Aku terlambat”. Ia segera melompat dari kasurnya dan menyambar handuk merah di kursi kerjanya. Ia menuju kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya. Air di kamar mandinya yang dingin seakan menyusup cepat melalui pori-pori kulitnya. Ia sekarang menjadi segar kembali. Di depan cermin, ia mencoba merapikan baju serta rambutnya diolesi dengan Gatsby Watergloss. Beberapa lembar pakaiannya ia masukkan ke dalam tas ransel hitam merah miliknya. Setelah merasa semuanya cukup dan memastikan tidak ada yang tertinggal, Iqbal segera memacu sepeda motor Yamaha Jupiter Z hitam merah keluaran tahun 2009 yang selalu setia mengantar kemanapun ia pergi. Dengan kecepatan tinggi ia melesat meninggalkan wilayah Aikmel menuju Pelabuhan Kayangan. Di Pasar Poh Gading Pringgabaya, ia sudah ditunggu teman kerjanya Hani. Iqbal dan Hani satu kantor, sore ini mereka harus berangkat ke KSB karena esok hari mereka masuk kerja. Hari ini hari minggu akhir pekan kantornya libur dan waktu itu mereka gunakan untuk pulang kampung karena lima hari kerja maka sabtu dan ahad mereka free. Meski mereka berdua sama-sama selesai kuliah di jurusan pendidikin pada salah satu perguruan tinggi swasta di Lombok Timur namun saat ini mereka bekerja pada lembaga keuangan mikro syariah. Secara latar belakang akademis memang tidak nyambung, meski begitu mereka tidak merasa kesulitan dan juga tidak membuat etos kerja mereka buruk. “Sorry kelamaan nunggu Han, tadi saya ketiduran”. Iqbal membuka percakapan. “Owh ndak apa-apa saya juga baru-baru sampai sini tadi diantar sama adek” jawab Hani dengan seulas senyum khasnya. Namanya Rohani tapi Iqbal biasa memanggilnya Hani. Tanpa berdialog panjang, Hani segera naik di belakang Iqbal. Hani memang membawa sepeda motor, karena kantornya mewajibkan setiap staf harus punya kendaraan sendiri dan juga supaya mobilisasi kerja lembaga cepat dalam melayani masyarakat binaannya tanpa harus mengganggu staf yang lainnya. tetapi Hani masih belum berani naik motor sendiri jika menempuh perjalanan jauh karena belum terlalu fasih. Motornya ia tinggalkan di kantor dan pulangnya kemaren sekalian numpang pada Iqbal Karena rumah mereka satu jurusan. Rumah Hani lebih dekat dari pelabuhan, sehingga Iqbal tidak perlu merasa direpotkan. Dua puluh menit sudah berlalu, mereka sudah sampai di gerbang pelabuhan. Terlihat beberapa petugas keamanan dari kepolisian, petugas syahbandar pelabuhan dan beberapa orang dari Dinas Perhubungan melaksanakan tugasnya. Setelah diperiksa kelengkapan surat-surat kendaraan dan surat ijin mengemudinya, Iqbal memacu sepeda motornya menuju loket pembelian tiket. Ia menyerahkan uang kertas lima puluh ribuan dan petugas memberikannya selembar tiket. Disana tertulis Penyeberangan Kayangan – Poto Tano Kendaraan Gol II Rp. 49.500,-. Tanpa diberikan kembalian, petugas mempersilakan Iqbal menuju Dermaga 2. Meski kembaliannya hanya lima ratus perak tetapi kali sekian orang yang nyeberang per 24 jam, sudah berapa yang terkumpul, tidak jelas penggunaannya untuk apa, bisa saja masuk kantong petugas. “Hmmmmm, gharar gumam Iqbal dalam hati”. Mereka kemudian menuju tempat antrean masuk, disana telah berjejer beberapa sepeda motor yang juga siap untuk menyeberang. “Mudah-mudahan kita dapat kapal yang cepat” ungkap Iqbal pada Hani, yang dibalas dengan anggukan dan lagi-lagi Hani kembali mengulas senyum di bibirnya. Sepuluh menit kemudian, terlihat di ujung jembatan pelabuhan merapat sebuah kapal besar berwarna putih dengan bertuliskan Visit Lombok – Sumbawa 2012. Beberapa truk besar beriringan keluar yang kemudian disusul dengan mobil-mobil pribadi beserta puluhan sepeda motor penumpang. Satu per satu para pengendara dipersilakan menuju kapal oleh petugas. Iqbal dan Hani segera bergegas dan beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di ruang penumpang. Mereka sengaja mencari tempat dekat jendela kapal yang cukup nyaman supaya dapat menikmati suasana laut dalam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 wita, kurang lebih satu setengah jam lagi waktu berbuka puasa tiba. Mereka berharap dapat berbuka di tempat kontrakannya agar lebih nyaman. Beberapa penumpang lainnya terlihat berjubelan masuk kapal dan mencari posisi duduk masing-masing. Meskipun di bulan ramadhan, suasana di kapal tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain. Anak-anak kecil dengan riangnya mencoba mengamen. Meski dengan alat musik seadanya dan suara terbatas mereka mendendangkan lagu-lagu Zivilia dengan penuh semangat. Berharap sumbangan seikhlasnya nanti dari para penumpang. Beberapa pedagang asongan juga terlihat berebutan menjajakan dagangannya, nasi bungkus, keripik pisang, jagung sampai air minum berbagai merek ditawarkan kepada penumpang. Di pojok kapal belakang terlihat beberapa penumpang makan tanpa beban, di samping dek kapal juga tampak beberapa bapak-bapak dengan nikmatnya menghisap rokok. “Subhanallah, padahal seratus persen penumpang kapal ini muslim. Ya Allah tetapkanlah hati hamba untuk selalu tetap berada dalam agama- Mu serta selalu istiqomah dalam menjalankan perintah-Mu untuk menunaikan rukun Islam, shaum di bulan suci Ramadhan ini. Amien”. Belum sempurna selesai berdo’a, seorang gadis menyapa Iqbal dengan penuh santun. “Permisi mas, bisa geser sedikit. Kursi yang lain sudah penuh. Bolehkah saya dan nenek saya duduk di sini ?”. ucap gadis itu dengan tatapan penuh harap Iqbal akan mengijinkannya. “Owh silahkan mbak. Semua kita bayar naik kapal ini, oleh sebab itu semua penumpang memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dan fasilitas dari kapal ini. Termasuk mbak dan nenek mbak boleh duduk di sini selama masih ada tempat”. Jawab Iqbal dengan penuh ramah. Iqbal kemudian sedikit bergeser dan memberikan ruang yang cukup untuk duduk mereka. Kini deretan kursi kapal yang tadi hanya diisi Iqbal dan Hani sekarang sudah ditambah dengan gadis beserta neneknya tersebut. Memang kapasitas satu deret kursi muat untuk duduk empat orang penumpang dewasa. Sekilas Iqbal memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia tidak terlalu cantik, ia kelihatan gadis biasa-biasa saja. Penampilannya pun tidak terlalu narsis apalagi tidak ada terlihat dandanan dan make up yang menor. Jauh berbeda dengan beberapa gadis lain yang seumuran dengannya yang selalu ingin tampil sempurna dan berharap menjadi pusat perhatian cowok-cowok. Disaat gadis yang lain selalu mencoba tampil layaknya para bintang iklan di televisi, mulai dari gaya rambut, gaya ngomong sampai pada gaya berpakaiannya. Tetapi gadis yang kini berada di sampingnya sangat-sangat sederhana. Padahal jika gadis ini berdandan lebih perfect lagi, ia cukup cantik. Naluri kepemudaan Iqbal kembali tergugah. Ada kekaguman terhadap kesederhanaan gadis yang baru ia jumpai ini. Iqbal ingin menyapanya tetapi harus mulai darimana. Ia menjadi bingung sendiri. Ia ingat pesan dosen komunikasinya dulu pas masih kuliah. “Jika anda bertemu dengan orang baru di tempat duduk, tiga menit pertama boleh diam tetapi setelah itu anda harus menyapanya”. Teori dari dosennya itulah yang membuat nyali Iqbal muncul. “Mbak mau kemana ?”. iqbal akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapannya. “Pulang”. Jawab gadis itu singkat. “Boleh tau rumahnya di mana ?”. sahut Iqbal dengan cepat. “Taliwang”. Jawab gadis itu dingin. “owh, saya juga mau ke Taliwang. Mbak orang asli sana ya atau mau mengunjungi keluarga ?”. Iqbal kali ini mengajukan pertanyaan yang kira-kira akan membuat gadis itu ngomong lebih panjang. “Saya asli orang Taliwang Mas, rumah saya di Kampung Bugis Rt. 03 sebelum PLN ada rumah makan Padang Sinar Surya dekat situ dah saya tinggal. saya baru saja balik dari rumah bibik saya di Lombok Timur untuk liburan. Kalau Masnya ?”. hmmmmm ternyata kali ini Iqbal berhasil membuat gadis di sampingnya itu merasa nyaman sehingga ada pertanyaan balik ditujukan juga untuknya. Hani yang sedari tadi hanya terdiam melihat tingkah polah temannya itu melontarkan komentar singkatnya pada Iqbal. “Mulai dah bertingkah nih orang”. Iqbal tidak menghiraukan teman kerjanya itu. Kembali ia melanjutkan obrolannya dengan gadis itu. “Saya kerja di Taliwang mbak baru pindah tugas dari Lombok. Saya ngontrak rumah di depan Hotel Grand Royal”. Jawab Iqbal dengan melempar senyuman ke teman ngobrolnya tersebut. Gadis itu membalas hangat dengan senyuman kecil pula. Selama dalam perjalanan, Iqbal dan gadis itu terus terlibat obrolan dalam suasana penuh kehangatan. Mereka membincangkan tentang Taliwang juga Lombok hingga kehidupan pribadi dan keluarga serta cita-cita masing-masing. Gadis itu bernama Fatimatuzzahro, tapi ia mengaku lebih senang dipanggil Fatimah. Ia kagum dengan kehidupan salah seorang puteri Rasulullah Siti Fatimah. Ia berharap dapat meneladani puteri Nabi yang paling mulia tersebut. Ia juga meyampaikan kepada Iqbal kalau saat ini ia baru mau masuk kuliah di Universitas Cordova mengambil jurusan Biologi murni dan ia ingin menjadi seorang ahli sains nantinya. Tanpa sadar, terompet kapal berteriak kencang pertanda kapal sudah sampai di pelabuhan Poto Tano. Mereka mengucapkan salam perpisahan dan diakhiri dengan saling tukeran nomor handphone. Fatimah dan neneknya melangkah menuju bis yang mereka tumpangi, sementara Iqbal dan Hani bergegas turun menuju dek kapal tempat sepeda motornya diparkir. Mereka melaju kencang meninggalkan Poto Tano menuju Taliwang diiringi semburat cahaya merah saga di ufuk barat langit pulau madu tersebut. Setengah jam lagi mereka akan tiba di Taliwang, pas dengan waktu berbuka. Selesai berbuka dan shalat maghrib, Iqbal merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya. Rasa letih masih belum sirna ia rasakan, tenaganya belum pulih seratus persen meski berbagai makanan dan aneka minuman segar habis ia lahap tadi pas berbuka. Tanpa sadar matanya mulai terlelap dan perlahan kesadarannya terbuai ke alam tidurnya. Kring…. Kring…. Suara handphonenya membangunkan Iqbal dari tidur singkatnya. Ada satu pesan baru masuk. Dia membuka smsnya. Owh ternyata pesan dari seseorang yang ia jumpai tadi di kapal. “Hei Bal, udah kenyang kan buka puasanya. Sekarang siap-siap ya berangkat taraweh”. Pesan singkat itu dikirim oleh Fatimah. Iqbal melongok ke jam dinding, sudah menunjukkan pukul delapan. Segera saja ia bangkit dan mengambil air wudhu’ kemudian bergegas ke Masjid untuk shalat tarawih. Sms dari Fatimah tidak sempat ia balas. Nanti saja ah sepulang taraweh saya balas. Gumamnya dalam hati. Sepulang taraweh Iqbal kembali ke tempat kontrakanya. Ia tadarusan sebentar kemudian beranjak menuju tempat tidur. Rasa kantuknya tidak bisa ia lawan hingga melupakan segalanya. Melupakan janji yang ia gumamkan sebelum berangkat taraweh tadi. Janji untuk membalas sms Fatimah. Hari-hari telah dilalui Iqbal di tempat kerjanya di Taliwang. Ia terus sibuk untuk menyelesaikan tugas kantornya yang makin banyak. Kadang tugas di siang harinya ia harus selesaikan hingga larut malam. Sementara handphonenya terus diisi oleh beberapa pesan masuk dari Fatimah yang satu kalipun belum sempat ia balas. Ia tidak lagi seramah waktu pertama bertemu di kapal dengan gadis itu. Ia seolah-olah cuek dengan sms-sms yang dikirim Fatimah untuknya. Namun tampaknya, Fatimah tidak pernah jera untuk mengirimkan sms ke Iqbal walau tak pernah terbalas, hingga beberapa minggu telah berlalu, satu dari sekian banyak sms yang telah Fatimah kirimkan membuat dahi Iqbal sedikit mengkerut dan mencoba menelaah dengan seksama maksud dari sms yang dikirim Fatimah. “ Aku di sini duduk sendiri, menatap bintang yang bersinar. Berharap seseorang kan datang untuk menghapus duka yang kini ku rasakan menghunjam dalam dadaku. Seseorang yang ku jumpai tanpa sengaja telah membuat siang dan malamku ku lalui dengan harapan untuk bisa bersama dia. Seandainya ia dapat merasakan apa yang kini aku rasakan. Mungkin dia tidak akan menyiksa aku seperti ini. K2 Iqbal, ucapkanlah satu kata yang bisa menenangkan perasaanku ini. Wassalam”. Zzzzpppppp, kontan saja perasaan Iqbal turut menyesak. Ia baru menyadari bahwa Fatimah, si gadis sederhana yang ia jumpai di kapal dalam perjalanannya menuju Taliwang itu selama ini memendam rasa. Ia bingung harus menjawabnya seperti apa. Di satu sisi ia tidak ingin terlibat hubungan asmara dengan siapapun di tempat ia tugas sekarang. Tetapi di sisi lain ia tidak ingin melukai hati gadis yang kelihatan masih lugu tersebut. Akhirnya ia mencoba membalas pesan singkat Fatimah dengan harapan tidak akan melukai gadis itu “Dek Fatimah, maafkan k2 baru sempat membalas smsnya. Terima kasih telah berani jujur tentang apa yang engkau rasakan selama ini. K2 juga jujur kalo k2 itu salut dengan kesederhanaanmu dan ketinggian cita-citamu. Kalo boleh k2 saran, Dek Fatimah lanjutkan dulu untuk mengejar cita-citamu. Masalah cinta, itu akan mudah kita dapatkan. K2 juga tidak berani janji n tidak bs menjamin adek bahagia jika bersama k2. Persahabatan itu lebih indah dari percintaan, Karena persahabatan bisa diakhiri dengan cinta sedangkan cinta tidak kan bisa berakhir dengan persahabatan. Mencintai itu mudah, tapi melupakannya itu yg sulit. Semoga kau mengerti maksud k2. Salam cinta untuk persahabatan kita. Wassalam….. Iqbal”. Dengan sedikit kebimbangan dan cemas, iqbal mengirim pesan tunggalnya itu pada Fatimah. Dengan iringan doa, gadis itu akan menjadi lebih dewasa dan lebih dahulu mengutamakan meraih impiannya sebelum terjebak oleh cinta. Cinta yang saat ini kebanyakan semu dan menipu serta membutakan setiap mata batin kala ia hinggap di hati seseorang.

sumber : kakak saya “M” tahun 2012


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *