sihir gadis berambut panjang 1

Sihir Gadis Berambut Panjang

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

Hujan jatuh dengan deras menerpa wajah Zul. Ketika itu ia tengah berjalan perlahan di gang sepi belakang sebuah kampus Universitas negeri. Ia berteduh di bawah pohon beringin yang akarnya menjuntai membelai tanah. Mata Zul tiba-tiba terbelalak, di gang sepi itu ia melihat ada sebuah rumah bercat merah muda, dan dihiasi oleh mawar merah di halamannya yang tak begitu luas. Rumah merah muda itu sangat terawat. Rumah itu tak seperti rumah di kiri kanannya yang seakan terkena ledakan geranat.

Zul kembali menyapukan pandangan ke seluruh gang, di sana berjejer rumah-rumah mungil bekas perumahan dosen yang kini tak tertempati lagi. Genting-genting berjatuhan, kayu-kayu lapuk berserakan, dan ilalang mencuat dengan begitu tinggi di halaman rumah-rumah itu. Tapi, ada satu rumah yang tampil beda, rumah bercat merah muda itu; rumah itu begitu terawat, bahkan tampil cantik dengan mawar merah menghiasi halaman.

Siapakah yang menempati rumah itu? Zul membatin. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di kampus itu, ia tak pernah sebelumnya melihat ada perumahan dosen yang tertempati, setidaknya sebelum libur semester genap dimulai tiga bulan lalu. Zul juga tak habis pikir siapakah yang berani menempati rumah di gang sesepi itu. Jika malam, gelap menyelimuti gang itu, hanya terdengar suara cericit tikus, kicauan jangkrik, suara kodok bersahutan jika musim hujan, dan sesekali teriakan burung hantu berdengung.

Hujan yang cukup deras mulai mereda, dari ufuk barat semburat warna jingga mencuat menandakan sore akan berganti senja. Zul bergidik menahan dingin, juga menahan ngeri membayangkan seseorang yang akan menghabiskan malam di rumah mungil bercat merah muda itu sendirian. Zul membalikkan badan beranjak kembali menuju kosnya di samping kampus yang tak jauh dari bekas perumahan dosen itu. Ketika ia berbalik, matanya menangkap cahaya lampu dari rumah bercat merah muda itu. Zul menoleh, rumah bercat merah muda itu nampak seperti berlian di atas pasir, begitu terang di tengah gang sepi. Hari semakin gelap, Zul bergegas menggeret kakinya lebih cepat.

***

Pagi hari, di tengah keriuhan kantin kampus, Zul terpaku diam di meja pojok kantin, ia penasaran ingin mencari tahu siapakah orang yang berani tinggal di rumah bercat merah muda itu. Rasa penasarannya begitu tinggi, tak pernah sepenasaran ini, seperti ada tarikan kuat yang menariknya. Gang itu memang sepi, jarang ada orang yang melalui gang itu karena diujung gang hanya ada tembok tinggi yang membatasi. Di sana berjejer rumah-rumah mungil yang lapuk karena tak terawat lagi, dan ilalang seakan membenamkan mereka.

Akhirnya Zul mengambil keputusan, ia akan datang lagi ke gang itu. Ia akan bersembunyi di bawah pohon beringin di mulut gang tempat ia berteduh kemarin sore. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas rumah bercat merah muda yang jaraknya hanya berselang dua rumah dari pohon beringin. Mudah-mudahan saja bisa melihat siapa gerangan sosok yang berani menempati rumah itu, Zul membatin.

Sore hari pun tiba. Zul berjalan menuju gang bekas perumahan dosen. Ia berdiri di bawah pohon beringin. Cahaya matahari sore nampak begitu cerah. Mata Zul menangkap sosok di halaman rumah bercat merah muda itu. Zul semakin merapatkan badannya di batang pohon beringin yang selebar pelukan tiga orang dewasa. Ia mengintip sosok itu. Zul terbelalak, hampir saja ia terjungkal oleh akar pohon di kakinya akibat rasa kaget yang tiba-tiba menyergap.

Sosok di halaman rumah bercat merah muda itu ternyata seorang gadis. Gadis itu mengenakan daster dari kain satin berwarna merah serupa darah, rambutnya panjang menjuntai hingga pinggul. Wajahnya begitu manis dengan sepuhan gincu di bibir berwarna senada daster yang dikenakan. Matanya teduh, hidungnya bangir, dan perawakannnya langsing berdiri di halaman rumah. Gadis itu sedang memegang selang, menyirami bunga-bunga mawar di halaman yang tumbuh menutupi sebagian besar halamannya. Bunga-bunga itu bermekaran berwarna merah seakan kegirangan menyambut siraman air dari gadis berambut panjang itu.

Mulut Zul terbuka menatap pemandangan yang ia lihat dari rumah bercat merah muda itu. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang gadis yang nampak begitu anggun berani tinggal sendirian di gang yang sepi ini. Takkah ia takut akan sosok hantu di malam hari atau maling yang tersasar menyatroni rumahnya. Dan, kecantikan gadis itu telah membuat dada Zul tiba-tiba sesak seakan batu tertelan di dadanya. Seperti ada daya magis setiap Zul menatap gadis berambut panjang itu. Daya magis yang menariknya untuk melangkah ke arah rumah bercat merah muda itu.

Tak terasa sudah tiga jam Zul berdiri menatap ke arah gadis itu. Matanya mengikuti terus apa yang dikerjakan gadis itu di halaman rumahnya. Sejak gadis itu menyiram tanaman, kemudian menyapu dedaunan di halaman, menggunting dedaunan kering di tanaman mawar merahnya, kemudian masuk sejenak ke dalam rumah. Gadis itu kembali lagi ke halaman, berdiri menatap bunga-bunga mawarnya seolah sedang berbicara dengan mereka.

Zul benar-benar terpukau akan sosok gadis berambut panjang itu. Ketika di kamar kosnya sepulang dari gang sepi itu, Zul terus menerus memikirkan gadis itu. Malam itu ia tak bisa makan, hanya ada bayangan gadis berambut panjang dengan daster merah serupa darah itu di benaknya.

***

Ketika di kampus, Zul memberitahukan kepadanya teman-temannya tentang apa yang dilihatnya di bekas perumahan dosen itu. Teman-temannya yang tak percaya hanya mencibirnya saja.

“Sudahlah Zul, kurangi makanya nonton film, itu yang bikin kamu suka mengkhayal” salah satu temannya berkata sembari menepuk pundak Zul.

“Saya tidak bohong, saya benar-benar melihatnya dengan mata kepala saya. Serius!” balas Zul dengan begitu meyakinkan, ia menatap tajam mata temannya. “Jika tak percaya, nanti sore saya ajak kamu melihatnya.”

“Tak usahlah Zul, saya sudah kesana beberapa hari yang lalu sama teman-teman, waktu antarin teman nyari rumput liar untuk praktikumnya. Dan, tak ada rumah seperti yang kau bilang itu di sana.”

Dahi Zul mengkerut, ia nampak terheran. “kok, saya melihatnya dengan jelas?”

“Makanya kurangilah begadang, jadinya kau suka berhalusinasi.” Kata temannya itu sambil terkekeh menginggalkan Zul sendirian.

Zul tak percaya, sore harinya ia menuju gang bekas perumahan dosen itu, kembali bersembunyi di bawah pohon beringin. Tetap seperti kemarin, ia kembali melihat gadis berambut panjang itu sedang menyiram bunga mawar merahnya. Gadis itu tetap mengenakan daster berwarna merah, tapi bedanya kali ini daster itu panjangnya di atas lutut menampilkan kakinya yang putih mulus. Lagi-lagi Zul terpesona, detak jantungnya semakin kencang seakan sedang berlari di lintasan lari.

Begitulah, setelah itu, setiap sore sepanjang hari Zul akan datang ke gang bekas perumahan dosen itu. Memilih berdiri di balik pohon beringin mengintip gadis berambut panjang itu menyirami bunga-bunga mawar yang menghiasi halaman. Anehnya, gadis itu tetap mengenakan daster berwarna merah dengan model yang berganti setiap hari. Zul sempat berpikir mungkin gadis itu gemar dengan warna merah, lihat saja cat rumahnya berwarna merah muda, tanaman di rumah itu hanya ada mawar merah. Bahkan bibirnya juga dipoles dengan warna merah yang begitu pekat serupa darah.

Tapi Zul tak pernah memikirkan itu, ia hanya terus membayangkan sosok gadis berambut panjang yang manis itu. Malam-malam hanya terisi oleh mimpi tentang gadis itu, Zul bermimpi sedang berjalan di padang berhiaskan guguran mawar merah, bergandengan tangan dengan gadis berambut panjang itu, seperti di film-film India.

Hingga pada suatu malam yang begitu benderang karena dihiasi oleh rembulan purnama, Zul merasakan rasa aneh di dalam dirinya. Ia merasakan ada tarikan dari rumah bercat merah muda di gang perumahan dosen itu. Rasa itu seperti rasa rindu yang berlipat-lipat, padahal baru sore tadi ia kesana. Zul tak kuat lagi, ia beranjak melangkah dari kamar kosnya menuju rumah gadis berambut panjang itu.

Zul memberanikan diri melewati malam yang disirami cahaya bulan purnama. Rumah-rumah tak berpenghuni di gang bekas perumahan dosen itu nampak terang bercahayakan purnama. Kali ini Zul tak lagi mengintip dari balik pohon beringin. Ia melangkah menuju rumah gadis berambut panjang itu. Rumah paling benderang di gang sepi itu.

Zul melangkah perlahan memasuki halaman rumah, ia melewati mawar-mawar merah yang nampak pucat di malam hari. Zul tiba di depan pintu rumah itu. Dadanya bergejolak, degupan nafasnya seakan berhenti akibat pacuan jantung yang begitu deras, dahinya dihiasi titik peluh. Ia benar-benar merasakan tegang yang berlebih karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan gadis berambut panjang yang telah mengisi otaknya selama berhari-hari.

Tangannya mengetuk pintu bercat merah muda senada dengan tembok. Lama ia mengetuk, tak ada jawaban, juga tak ada sahutan dari dalam rumah. Didorong rasa penasaran dan gejolak aneh di dadanya, ia menggamit gagang pintu kemudian membuka pintu secara perlahan. Mata Zul menyipit melihat pemandangan yang terhampar di dalam rumah itu.

Mawar-mawar merah menghiasi hampir seluruh ruangan. Anehnya, cat tembok di dalam rumah itu terasa suram, karena cat yang digunakan berwarna merah tua serupa darah. Zul menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, hampir semua perabotan berwarna merah, jika tidak merah tua maka merah muda. Zul pun sampai di ruang makan, ia melihat sosok gadis itu tengah makan. Gadis itu sedang menancapkan garpu di daging berwarna merah di atas piring datar. Di dekatnya ada gelas berisi minuman berwarna merah yang benar-benar seperti darah.

Badan zul gemetar melihat pemandangan di meja makan itu. Sekonyong-konyong matanya buram, suara serupa kelapa jatuh dari pohon terdengar ketika badan Zul terkulai di atas lantai.

***

Cahaya menerobos masuk ke kelopak mata Zul ketika Zul membuka matanya. Ia terkulai di atas sofa berwarna merah. Ia beranjak duduk. Tempat ini tampak asing di mata Zul, ia menyapukan pandangan ke arah tembok berwarna merah pekat. Malam masih menyelimuti langit, dari sela-sela gorden berwarna merah nampak cahaya purnama. Barulah ia ingat bahwa ia sedang berada di rumah gadis berambut panjang itu. Gadis itu datang mendekat Zul, Zul Nampak kaget, hendak berdiri.

Gadis itu tersenyum dengan manis membuat dada Zul berdesir. Ia duduk di dekat Zul. Masih seperti yang lalu-lalu, gadis itu mengenakan daster dari kain satin berwarna merah, kali ini lebih mirip baju tidur dengan bawahan yang hanya sedikit di bawah pahanya yang mulus.

“Kenapa kamu berani tinggal sendirian di sini?” Zul memberanikan diri bertanya untuk menepis kebekuan di antara mereka. “maaf ya saya masuk tanpa permisi.”

“Tak apa, saya mungkin tidak mendengar ada yang mengetuk tadi.” Gadis itu merapikan dasternya. “Saya dosen muda, nama saya Hilda, pihak kampus menyuruh menempati rumah ini.”

“Oh begitu. “ Zul menyapukan pandangannya ke seantero tembok yang berwarna merah serupa darah. “Lantas kenapa kau sangat suka warna merah, hampir seluruh ruangan ini berwarna merah.”

“Tidak ada, saya hanya suka saja, terkadang rasa suka itu tak perlu alasan, bukan?”

Kemudian gadis itu memegang pundak Zul, matanya tajam seolah menembus mata Zul. Mereka saling menatap tajam, tubuh mereka semakin dekat, kemudian bibir mereka bertemu, merekapun berdekapan begitu erat. Kini wajah Zul terlumuri warna merah serupa darah setelah gadis itu menyapukan bibirnya ke sekujur wajah Zul.

***

Tiga bulan berselang, rumah kos tempat Zul tinggal gaduh. Zul tak pernah lagi ada di kamar kos itu. Seperti lenyap seketika. Dengan memberanikan diri pemilik kos membuka kamar kos Zul. Barang-barang milik Zul masih ada di sana. Tapi ada yang aneh, di kasur Zul ada sepasang mawar merah berdekatan di atas bantal. Pemilik dan tetangga kos Zul nampak bingung melihat pemandangan itu.

Orang-orang mencari-cari Zul di sekeliling kampus, juga di kos-kos teman kampusnya. Namun nihil. Tapi tak ada yang mencari di bekas perumahan dosen itu, karena mereka tak melihat ada satu rumah pun yang layak huni. Bahkan rumah yang sering diceritakan Zul itu tak ada bekasnya sedikitpun.

Sedangkan di saat yang sama, di sofa merah gadis berambut panjang itu, Zul masih duduk berdekapan begitu mesra dengang gadis itu. Zul merasa waktu baru beranjak tiga menit saja.

Abiantubuh, 2013


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *