STERILISASI JALAN UNRAM, BAIK ATAU BURUKKAH?

Asal Tulis, Berita, Kepenulisan, Non Fiksi

 universitas mataram

Salah satu aspek dari pertumbuhan ekonomi yang paling berpengaruh adalah mudahnya akses jalan yang menghubungkan antara penjual dengan pembeli. Dengan adanya akses jalan tersebut akan memudahkan transaksi jual beli yang dilakukan oleh masyarakat tersebut yang sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini otomatis ikut berperan serta dalam menunjang laju pertumbuhan perekonomian masyarakat.

Sebagaimana bisa kita lihat, pertumbuhan ekonomi memang berkaitan erat dengan tersedianya akses jalan tersebut karena tanpa adanya akses jalan, maka transaksi jual beli tidak akan terjadi. Seperti yang kita ketahui bahwa kegiatan perdagangan juga ikut ambil bagian dalam laju pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Universitas Mataram atau yang lebih kita kenal dengan sebutan UNRAM merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang berlokasi di Mataram, Indonesia. Universitas Mataram berdiri pada tanggal 1 Oktober 1962. Rektor yang menjabat pada saat ini adalah Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph.D. Kampus UNRAM ini, terletak di Jalan Majapahit, dimana gerbang utama dan Gedung rektorat UNRAM tepatnya berada di jalan ini. Sementara fakultas-fakultasnya bisa diakses melalui gerbang utama kemudian menyusuri jalan lingkar yang melingkari semua fakultas yang ada di UNRAM.

Dulu, jalan UNRAM bisa dimasuki oleh masyarakat luar karena memiliki banyak jalan pintas yang menghubungkan Universitas Mataram dengan akses jalan besar di luar lingkungan UNRAM. Hal ini tentunya menyebabkan kesemrawutan lalu lintas sekitar jalan UNRAM. Kesemrawutan ini terjadi karena beberapa hal, misalnya saja banyaknya angkutan umum seperti cidomo dan ojek yang menaikkan dan menurunkan penumpang masuk ke dalam lingkungan UNRAM. Begitu juga dengan mahasiswa luar UNRAM yang bebas keluar masuk jalan UNRAM untuk menghemat waktu agar cepat sampai di kampusnya. Hal ini dipicu karena lokasi kampus mereka yang berdekatan dengan UNRAM sehingga jalan masuk UNRAM tersebut menjadi alternatif jalan pintas ke kampus mereka. Belum lagi orang luar yang menikmati fasilitas kampus, seperti akses internet gratis, perpustakaan, halaman auditorium UNRAM (sebelum direnovasi) yang dijadikan sebagai lapangan bermain dan sarana olahraga oleh masyarakat di sekitar area kampus UNRAM.

Melihat keadaan yang kacau balau seperti ini, petinggi UNRAM menerapkan kebijakan baru yakni dengan menutup jalan-jalan pintas dan melarang orang-orang luar untuk memasuki area UNRAM, kecuali civitas akademika dan tamu yang memang memiliki keperluan dengan Universitas Mataram. Kebijakan penutupan jalan UNRAM tersebut mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2014. Mendengar wacana tentang penutupan jalan UNRAM tersebut, muncul berbagai aksi protes baik dari mahasiswa maupun dari pihak masyarakat sekitar UNRAM yang merasa dirugikan. Berbagai opini pun terungkap dari berbagai kalangan mengenai kebijkan itu, pro dan kontra menjadi hal yang wajar. Aksi dan reaksi pun menjadi simbol perlawanan bagi mereka yang merasa bahwa kebijakan itu tidak tepat. Namun sampai detik ini, itu hanya terlihat seperti “padi yang gagal panen”, tidak ada hasilnya sama sekali.

Banyak yang menyayangkan diberlakukannya kebijakan baru ini, baik dari kalangan mahasiswa UNRAM itu sendiri maupun dari kalangan masyarakat. Penutupan jalan UNRAM tersebut dianggap lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada dampak positifnya karena secara tidak langsung penutupan jalan ini mempengaruhi ekonomi masyarakat sekitar. Hanya yang memiliki tanda pengenal yang bisa memasuki areal Universitas Mataram karena di setiap jalan masuk dan keluar UNRAM ada beberapa satpam yang berjaga.

Biasanya kebijakan yang diambil oleh pemerintah pasti menimbulkan pro dan kontra dari kalangan masyarakat, begitu juga halnya dengan sterilisasi jalan UNRAM ini. Bagaikan dua sisi mata uang, sterilisasi jalan UNRAM memiliki dampak positif dan dampak negatifnya. Salah satu dampak positifnya yaitu jalan masuk UNRAM lebih tertib dan bebas dari pedagang kaki lima yang sering berjualan dan sampah dagangannya sering mengotori lingkungan sekitar UNRAM. Sedangkan, salah satu dampak negatifnya yaitu menyebabkan kemacetan dan mahasiswa yang tinggal di sekitar UNRAM harus mencari jalan alternatif lain yang tentu saja memakan waktu lebih lama dari biasanya. Belum lagi kasus kecelakaan yang terjadi di depan jalan masuk UNRAM yang disebabkan oleh semrawutnya laju kendaraan yang terlihat saling menyerobot untuk masuk ke areal UNRAM, apalagi jalan yang ada di sekitar UNRAM ada yang lurus dan ada yang berbelok sehingga harus berhati-hati untuk melewati persimpangan jalan tersebut.

Sempat terjadi aksi demo yang menentang kebijakan tersebut dan mengakibatkan terjadinya adu argumentasi antara kubu yang mendukung kebijakan penutupan jalan UNRAM dengan kubu yang menentangnya. Menurut kubu yang menentang kebijakan ini, dengan adanya penutupan beberapa akses jalan seperti Jalan Tambora dan Jalan Prasarana, para mahasiswa dan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kampus harus rela mengambil jalan memutar untuk dapat sampai ke UNRAM. Selain itu juga, kebijakan tersebut dianggap mengabaikan masyarakat lingkungan setempat dan tidak menghargai kepentingan masyarakat setempat.

Sementara itu, menurut kubu mahasiswa yang mendukung penutupan akses UNRAM, kebijakan rektorat tersebut dinilai sudah seusai yaitu untuk menjaga keamanan kampus. Sebab selama ini cukup banyak sepeda motor dan sarana prasarana kampus yang hilang dicuri oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Selain dampak yang telah disebutkan di atas, sterilisasi jalan UNRAM juga berimbas pada pendapatan masyarakat sekitar yang membuka warung-warung pinggir jalan. Warung-warung tersebut dulunya ramai dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa juga pegawai UNRAM. Namun, setelah diberlakukannya sterilisasi jalan UNRAM tersebut menyebabkan pendapatan mereka merosot tajam bahkan sampai ada yang menutup warungnya karena sudah tidak ada lagi pelanggan yang mengunjungi warung mereka. Bukan hanya pemilik warung yang merasakan imbas dari penutupan jalan UNRAM ini, tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh mahasiswa untuk keperluan tugas kuliahnya, seperti jasa pengetikan, tempat foto copy, warung internet (warnet), serta toko serba ada yang menjual berbagai macam alat-alat tulis juga ikut terkena imbasnya. Tempat-tempat yang telah disebutkan ini menjadi sepi pengunjung, tidak seramai dulu karena lokasinya yang semakin jauh semenjak ditutupnya akses jalan pintas yang menuju ke tempat tersebut.

Memang, penutupan jalan UNRAM ini membawa manfaat tersendiri bagi Universitas Mataram. Dengan diberlakukannya kebijakan penutupan jalan UNRAM tersebut membawa ketertiban bagi civitas akademika kampus tersebut. Kebijakan sterilisasi jalan UNRAM seharusnya dilakukan jauh-jauh hari karena memang lingkungan kampus itu hanya diperuntukkan bagi civitas akademikanya serta tamu yang datang berkunjung.

Seharusnya petinggi kampus mendiskusikan dahulu rencana untuk menutup akses jalan-jalan pintas yang menuju Universitas Mataram dengan banyak pihak, mungkin saja dengan begitu akan ada solusi lain yang menguntungkan kedua belah pihak selain menutup jalan pintas tersebut. Kalau memang penutupan jalan merupakan solusi yang terbaik, ada baiknya untuk tidak menutup semua jalan pintas tersebut. Bisa saja dengan menempatkan beberapa orang satpam untuk berjaga disetiap jalan yang tidak tertutup tersebut atau bisa juga dengan menyiapkan beberapa lahan khusus untuk berjualan dengan sistem sewa tempat agar mahasiswa dapat menikmati dengan bebas berbagai macam variasi makanan yang biasanya dijual oleh pedagang sekitar jalan UNRAM.

Pemahaman yang lebih mendalam terhadap segi negatif kebijakan ini adalah bahwasanya UNRAM sebagai lembaga pendidikan sudah mulai menutup diri untuk umum. UNRAM seharusnya sadar diri bahwa sesungguhnya ia bukan hanya milik masyarakat UNRAM saja, namun milik semua masyarakat, khususnya masyarakat NTB. Hal tersebut merupakan sesuatu yang mengherankan jika UNRAM memberlakukan kebijakan tersebut, semua yang ingin masuk ke UNRAM harus menunjukkan kartu identitas terlebih dahulu. Mungkin saja berhasil mengantisipasi tindakan kriminal dari luar seperti pencurian kendaraan bermotor, peredaran minuman keras, narkoba, dan lain-lain. Namun, apakah bisa mengatasi tindakan kriminal dari dalam seperti korupsi, pungutan liar, dan lain-lain.

Yah, bagaimana pun kerasnya kita berdebat panjang mengenai penutupan jalan UNRAM tersebut, toh kebijakan sterilisasi jalan UNRAM sudah diberlakukan. Seperti kata pepatah “nasi sudah menjadi bubur”, kita harus menerima keadaan tersebut dan mengikuti aturan yang telah diterapkan oleh petinggi Universitas Mataram. Tentunya harapan besar masyarakat UNRAM kedepannya kebijakan ini benar-benar bermanfaat dan dapat membasmi kejahatan serta kriminalitas yang sering terjadi, yang dijadikan dasar utama lahirnya kebijakan ini. Bukan malah kebalikannya. Hal itu dapat diuji dan dibuktikan setelah beberapa bulan kebijakan ini diberlakukan. Yah, kita lihat saja kedepannya apakah kebijakan penutupan jalan UNRAM ini merupakan solusi yang terbaik dalam menuntaskan segala macam permasalahan yang disebutkan di atas dan apakah kebijakan ini akan bertahan lama atau hanya sementara? Kita tunggu saja kelanjutannya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *