Tarik Ulur Harga BBM

Ekonomi, Non Fiksi, Opini

Tarik Ulur Harga BBM

Tanggal 18 November 2014 ditetapkan sebagai awal baru harga BBM bersubsidi, yang mulanya 6.500 rupiah/liter naik menjadi 8.500 rupiah/liter. Tentunya hal ini menuai pro dan kontra, akan tetapi menurut pemantauan saya masyarakat lebih condong ke arah kontra karena hanya akan makin menyusahkan rakyat kecil. Meski begitu kita hanya bisa menerima karena kita hanya masyarakat kecil yang tidak akan berpengaruh apa-apa jika kita berkata. Lain halnya dengan mereka, para pejabat negara khususnya pimpinan negara yang hanya dengan satu keputusan bisa mempengaruhi berjuta-juta nasib rakyatnya.
Berbagai macam aspirasi sebelum harga dinaikkan seolah-olah tak didengarkan, mereka para petinggi negara seakan menutup mata dan telinga. Mereka hanya membuka bibir mereka untuk menjelaskan berbagai macam alasan kenapa harganya dinaikkan. Salah satunya untuk tiga kartu sejahtera sosial antaranya kartu pintar, kartu sehat, dan kartu sosial jokowi. Yang nantinya entah akan sampai atau tidak kepada seluruh masyarakat menengah ke bawah.
Namun tepat pada tanggal 1 januari 2015 keputusan lain dikeluarkan lagi, yakni penurunan harga BBM menjadi 7.600 rupiah/liternya, yang dikatakan oleh sebagian pembawa acara berita sebagai kado tahun baru dari pemerintahan Jokowi-Jk. Turun 900 rupiah dari harga yang kemarin sempat diputuskan oleh pemerintah. Entah alasan apa yang melatarbelakangi keputusan pemerintah ini, yang jelas tetap saja kita hanya bisa menerima permainan harga yang dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan mengalami tarik ulur itu. mungkin mereka sudah lelah mendengar bahkan melihat aspirasi yang dulunya mereka abaikan, atau mungkin mencari aman terhadap tindakan yang semakin anarkis menentang kenaikan harga waktu itu. jika dikaji lebih jauh lagi kenaikan sekaligus penurunan harga yang hanya berkisar satu setengah bulan itu tentunya menjadi tanda tanya besar. Akankah itu hanya sebagai suatu strategi pemerintah baru untuk memenangkan hati rakyat yang dulu kontra terhadapnya dengan keputusan kenaikan harga akan berubah menjadi pro pemerintah dengan keputusan penurunan harga.
Akan tetapi penurunan harga ini masih saja tidak serta merta mempengaruhi harga kebutuhan pokok dan tarif angkutan umum yang sudah terlanjur melonjak sejak kenaikan harga kemarin.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *