harapan palsu 1

Tea Last Order

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

Aku duduk bersama keheningan, ketika bayangan senja mulai merayapi tembok biru disampingku. Sesekali ia mencoba bergema, menggemakan suara-suara bisu, berbisik malu-malu.

Kubuka lembaran menu, mengaduk-aduk teh hangat yang serasa manis tanpa gula. Membayangkan wajahmu melayang-layang diatasnya.

“Bintang, malam ini ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan. Kita ketemu di tempat biasa. Salam, Ardi Andromeda”

Bunyi pesan singkat yang kau tuliskan, seperti biasa di catatan maya milikmu. Namun semenjak namaku muncul di sana, setiap tulisanmu tidak pernah bisa jadi biasa.

Aku tersenyum membayangkan perjumpaan kita, setelah sekian lamanya. Menerka-nerka dengan sejuta pembenaran, berusaha mengungkap misteri rasa diantara kita.

Andai layar ini bisa berubah warna, pasti ia sudah menjelma selembar sutra bermotif bunga-bunga.

“Kakak, malam ini jadi tidak? Kan kakak sudah janji..”

Sudah 3 jam berlalu, teh manis beraroma bunga ini perlahan mulai terasa pahit, sepahit kenyataan bahwa orang yang kunanti tak juga datang.

Kuamati muka-muka yang penuh dusta diruangan ini, semua nampak acuh dengan pertanyaan itu. Aku sadar, hanya ada satu yang jujur, muka bulat jam yang menggantung di dinding itu. Jam yang tiap hentakan detiknya kian terasa menyiksa. Seperti hatiku yang digantung olehmu, di dinding perbatasan antara takdir dan harapanku.

“Kakak, kamu dimana??”

Aku terus saja bertanya, tanpa jeda. Sebab jeda adalah kata yang tak kau suka. Kau bilang jeda itu tak pernah ada, ia hanyalah langkah semu yang tercipta sebelum ada langkah baru. Bagimu jeda bukan berarti berhenti, ia hanyalah kesenyapan yang berarti untuk langkah selanjutnya.

“Kakaaaak, kamu dima….”
Teriakanku disergap oleh angin yang membuat bulu kuduk merinding.

“Sampai kapan kamu mau terus nunggu dia?”
Suara itu tiba-tiba merontokkan bunga-bunga harapanku, kelopaknya layu begitu saja.

Linda
Dia lagi, dia lagi.

“Kamu, ngapain disini? Bukannya udah kubilang tunggu aja diparkiran, ngga usah ikut??”

“Emangnya ngga boleh? aku kan teman dekatmu, kasian aja kalau kamu sendirian. Lagian ini kan sudah kedua kalinya kamu kesini, dan ngga ketemu orang yang dicari. Kamu ngga bosen apa??”
Linda berusaha sok perhatian denganku, padahal aku tak pernah meminta ditemani. Dia saja yang selalu nyelonong ikut kemanapun aku pergi.

“Kubilang juga apa, dia itu nulis begitu belum tentu buat kamu. Bisa jadi buat adik kelasnya itu. Nova, Nova.. Kamu sih, ke ge-er an..”
Dia mulai lagi menceramahiku seperti Ibu-ibu memergoki anaknya sedang maling sandal di mushola.

“Engga, pasti buat aku, dia kan pernah bilang kalau aku itu seperti bintang, bersinar terang di malam hari”
Aku berusaha membela diri. Jelas, karena aku ingat Kak Ardi pernah sungguh-sungguh mengatakan itu di depanku.

“Iya, itu kan karena waktu itu kamu dapat penghargaan dari sekolah. Bintang kelas, apa itu kurang jelas?”

“Aku tahu, tapi ini kan bukan urusanmu! Hargai dong, aku juga butuh privasi!”
Mukaku memerah padam, semerah saus sambal yang tersisa tinggal setengahnya. Restoran ini terkenal dengan sambalnya yang ekstra pedas, tapi rasanya hari ini kata-kata Linda jauh lebih pedas.

“Mbak, mau pesan sekarang es kelapanya?”
Beruntung, seorang pelayan datang melerai pertengkaran kami berdua.

“Nanti saja mbak, orangnya belum datang”

“Oh, baik kalau begitu. Tapi maaf, karena sebentar lagi kami akan tutup, pemesaran terakhir kami layani sampai 30 menit lagi. Kalau ada yang mau dipesan lagi panggil saja ya mbak.”

Pelayan itu pun berlalu, sambil membereskan mejaku dan meja-meja di sekitar yang kini tak lagi ditempati. Sepiring ayam sambal kesukaanku pun diangkutnya, dan membiarkan segelas teh manis yang sudah kosong, sekosong harapanku malam ini. Ia tak berani menyentuhnya, karena sedotannya terus saja kupegangi.

Pesan terakhir. Aku kembali teringat akan pesan terakhirmu, sore itu. Setelah sekian lama memilih lupa, akhirnya tersadar bahwa pesanmu itu hanyalah pesan lama. Kulihat dari tanggalnya, lewat 3 tahun dari yang seharusnya.

Harusnya, dan harusnya.

Kadang rasanya ingin tertawa, mengingat diriku yang begitu bodohnya, bahkan bisa juga dibilang gila. Pergi sendiri ke restoran ini setiap tahun di tanggal yang sama, mengharap perjumpaan yang tak akan pernah ada. Menaruh harap pada orang yang tak pernah memberi. Menagih janji dari seseorang yang tak pernah mengucapkannya.

Tak sanggup ku menahan air mata, wajahku pun tenggelam diantara lengan dan meja.

Bandung, 13 Oktober 2014


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *