TELAAH BUKU TEKS BAHASA INDONESIA tulismenulis.com

TELAAH BUKU TEKS BAHASA INDONESIA

Pendidikan

HAKEKAT BUKU TEKS

  1. Pengertian dan Definisi Buku Teks

      Istilah buku teks yang dipergunakan dalam buku ini adalah terjemahan atau padanan textbook dalam bahasa Inggris. Walaupun dalam kamus textbook diterjemahkan dengan buku pelajaran (Echols dan Sadily; 1983:584). Sejak dulu telah banyak ahli yang menaruh perhatian pada buku teks, dan juga mengemukakan pengertiannya. Berikut ini kita terakan beberapa di antaranya.

      Ada yang mengatakan bahwa “buku teks adalah rekaman pikran rasial yang disusun buat maksud-maksud dan tujuan-tujuan instruktusional” (Hall-Quest, 1915).

     Ahli yang lain menjelaskan bahwa “buku teks adalah buku standar atau buku setiap cabang khusus studi “ dan dapat terdiridari dua tipe yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. (Lange,1940).

     Lebih terperinci lagi, ada ahli yang mengemukakan bahwa “buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunaan di kelas, dengan cermat disusun ddanan disiapkan oleh para pakar atau para ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi”. ( disiapkan oleh para pakar atau para ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi”. (Bacon, 1935).

    Secara lebih lengkap dapat didefinisikan sebagi berikut ini, yang berbunyi seperti “buku teks adalah buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan buku standar, yang disusun oleh para pakar dalam bidang itu buat maksud-maksud dan tujuan instruksional, yang diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di seolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang sesuatu program pengajaran.

  1. Fungsi Buku Teks

   Dengan pertolongan buku-buku (dan media cetak lainnya) maka ilmu pengetahuan dapat dihimpun ke dalam suatu wadah (toko dan dana) yang selalutersedia secara permanen. Dan perlu kita sadari benar-benar, dari semua buku teks atau pelajaran merupakan sarana/instrumen yang paling baikdan ampuh, bagi pendanaan seperti itu. Buku-buku teks merupakan sarana penting dan ampuh bagi penyediaan dan pemenuhan pengalama tak langsung dalam jumlah yang besar dan terorganisasi rapi. Perlu diakui dengan jujur bahwa memang telah banyak perbincangan mengenai nilai edukatif dari pengalaman langsug dengan benda-benda dalam kehidupan ini.

  Buku teks memberi kesempatan pada pemiliknya untuk menyegerakan ingatan. Baca-baca kembali tentulah dapat memperkuat ingatan yang sudah ada. Bahkan pembacaan kembali itu dapat pula dipakai sebagai pemeriksaan daya ingat seseorang terhadap hal yang pernah dipelajarinya melalui buku teks.

    Greene dan Petty telah merumuskan beberapa peranana buku teks tersebut sebagai berikut:

  • Mencerminkan suatu sudut pandangan yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan.
  • Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subjectmatter yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagi dasar bagu program-program kegiatan yang disarankan di mana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya.
  • Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi.
  • Menyajikan bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya, metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi para siswa.
  • Menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam)awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis.
  • Menyajikan bahan/sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna. (Greene dan Pretty, 1971:540-2).

     Bahan yang terkandung dalam buku teks hendaknya tersusun rapi. Selain tersusun dalam susunan yang sistematis maka bahan itu harus pula tersusun dalam gradasi tertentu. ditersusun rapi. Selain tersusun dalam susunan yang sistematis maka bahan itu harus pula tersusun dalam gradasi tertentu. Disesuaikan dengan hakekat mata pelajaran maka susunan itu sebenarnya dapat beraneka ragam. Misalnya umum-khusus, mudah-sukar, bagian-keseluruhan, dan sebagainya.

  1. Jenis-jenis Buku Teks

         Di lingkungan Sekolah Menengah Atas dikenal beberapa nama buku teks. Misalnya buku teks dalam mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah, fisika, Kimia, Matematika, dan sebagainya. Di tinggi ada berbagai jenis buku teks. Di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sebagai contoh, kita kenal buku teks matakuliah Tata Bahasa (Sintakis dan Morfologi), Menyimak, Membaca, Apresiasi Sastra, dan sebagainya. Di samping itu kita juga mengenal istilah lain seperti buku teks tunggal, buku teks berjilid dan buku teks berseri. Karena itu dapat kita simpulkan bahwa buku teks mempunyai aneka jenis atau ragam.

     Menurut pengamatan penulis ada empat dasar atau patokan yang digunakan dalam pengklasifikasian buku teks. Patokan-patokan itu adalah:

  • Berdasarkan mata pelajaran atau bidang studi ( terdapat di SD, SMTP,SMTA).
  • Berdasarkan mata kuliah bidang yang bersangkutan ( terdapat di perguruan tinggi).
  • Berdasarkan penulisan buku teks (mungkin di setiap jenjang pendidikan).
  • Berdasarkan jumlah penulis buku teks.

       Dari segi cara penulisan buku teks dikenal tiga jenis buku teks. Ketiga jenis itu adalah:

  • Buku Teks Tunggal

    Buku teks tunggal ialah buku teks yang hanya terdiri atas satu buku saja. Berikut ini didaftarkan beberapa contoh buku teks tunggal, antara lain:

  • Kerap, Gorys, 1973, Tatabahasa Indonesia Untuk SLA, Ende Flores, Nusa Indah.
  • Ramlan, M. 1983, Sintaksis, Joyakarta: CV Karyono.
  • Samsuri, 1985, Tata Kalimat Bahasa Indonesia, Jakarta; Sastra Hudaya.
  • Sudaryanto, 1983, Predikat-Objek Dalam Bahasa Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1984, Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis, Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia, Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1985,Pengajaran Gaya Bahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Berbicara, Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung, Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Membaca, Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung, Penerbit Angkasa.
  • Buku Teks Berjilid

    Buku teks berjilid ialah buku pelajaran pelajaran untuk satu kelas tertentu atau untuk satu jejang sekolah tertentu. Berikut ini didaftarkanbeberapa contoh buku teks bejilid seperti:

  • Depdikbud, 1981, Bahasa Indonesia I, II dan III, Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pelajaran, perpustakaan & Keterampilan SLU.
  • Alisyahbana, Sutan Takdir, 1975, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia I dan II, Jakarta: Dian rakyat.
  • Badudu, Y.S. , Sari Kesustaraan Indonesia Idan II, Bandung: Pustaka Prima.
  • Jassin, H.B. , Angkatan 66 Prosa dan Puisi I dan II, Jakarta: Gunung Agung.
  • Buku Teks Berseri

     Buku teks berseri ialah buku pelajaran berjilid mencakup beberapa jenjang sekolah, misalnya dari SD-SMP-SMA. Berikut ini disajikan satu contoh buku teks berseri.

  • Tarigan, Henry Guntur dan Djago tarigan, 1985, Terampil Berbahasa indonesia, ( untuk SD-9 jilid), Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur dan Djago tarigan, 1985, Terampil Berbahasa indonesia, ( untuk SMP-6 jilid), Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur dan Djago tarigan, 1985, Terampil Berbahasa indonesia, ( untuk SMA-6 jilid), Bandung: Penerbit Angkasa.

     Khusus bagi pengajaran bahasa Indonesia ada cara yang lain. Bahasa Indonesia sebagai bahan pengajaran dapat dklasifikasikan dari tiga aspek, yaitu:

Aspek kebahsaaan

    Bahasa Indonesia sebagi bahan pengajaran dipandang dari segi kebahasaan meliputi:

  • Fonologi
  • Morfologi
  • Sintaksis

Aspek Keterampilan Berbahasa

     Bahasa Indonesia sebagai bahan pengajran dipandang dari segi keterampilan berbahasa dapat diklasifikasikan menjadi:

  • Keterampilan menyimak
  • Keterampilan berbicara
  • Keterapilan mambaca
  • Keterampilan menulis.

 Aspek Kesastraan

  • Sejarah sastra
  • Teori sastra
  • Kritik sastra.

       Setiap aspek itu dengan sub aspeknya memerlukan pula buku teks tertentu. Karena itu diperlukan berbagi buku teks sperti untuk fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, menyimak, berbicara, membaca, menulis, sejarah sastra, teori sastra dan kritik sastra. Bebrapa contohnya sudah disebutkan pada pembicaraan di muka. Namun untuk memantapkan pemahaman kita sekali lagi debrikan contoh-contohnya. Buku teks kebahasaan, antara lain:

  • Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Morfologi, Bandung : Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Sintaksis, Bandung : Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Semantik, Bandung : Penerbit Angkasa.

Buku teks keterampilan berbahasa antara lain:

  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Menyimak, Sebagi Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: PenerbitAngkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Berbicara, Sebagi Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Membaca, Sebagi Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.
  • Tarigan, Henry Guntur, 1983, Menulis, Sebagi Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.

Buku teks kesastraan, antara lain:

  • Naha, I.K.,1984, Ihtisar Periodisasi Sastra Indonesia, Surabaya: Sinar Wijaya.
  • Soekarno, Drs., 1984, Sastra Indonesia Klasik untuk SMA, Surabaya: Sinar Wijaya.
  • Gani, Rizanur, 1981, Pengajaran Apresiasi Puisi, Jakarta, P3G Dep. P dan K.
  • Wardani, I. GAK, 1981, Pengajaran Apresiasi Prosa, Jakarta: P3G Dep. P dan K.

PENELAAHAN BUKU TEKS BAHASA INDONESIA

  1. Kriteria Telaah Buku teks

      Beberapa sumber acuan yang dapat kita pertimbangan dan gunakan dalam penyusunan pedoman penelaahan buku teks antara lain:

  • Kuriklum (yang berlaku)
  • Karakteristik mata pelajaran (ilmu yang relevan)
  • Hubungan antara kurikulum, mata pelajaran dan buku teks
  • Dasar-dasar penyusunan buku teks
  • Kualitas buku teks
  • Prinsip-prinsip penyusunan buku kerja
  • Penyeleksian buku kerja.

     Sebagai contoh lihatlah bagaimana keterampilan proses diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Penjabaran tersebut jelas memenuhi karakter bahasa Indonesia itu sendiri. Penerapan keterampilan proses itu adalah sebagi berikut:

Mengamati:

  • Menatap : memperhatikan suatu oyek dengan cara melihat.
  • Membaca: memahami suatu bacaan.
  • Menyimak: memahami sesuatu yang dibicarakan orang lain.

 Menggolongkan:

     Mencari persamaan, perbedaan atau pegelompokkan sesuatu (dapat berupa wacana, kalimat dan kosakata).

Menafsirkan:

  • Menafsir: mencari atau menemukan arti, situasi, pola, kesimpulan dan pengelompokkan sesuatu wacana, kalimat, kosa kata.
  • Mencari dasar penggolongan: mengelompokkan sesuatu, berdasarkan suatu kaidah, dapat berupa kata dasar, kata bentukan, jenis kalimat, pola kalimat ataupun wacana.
  • Memberi arti : mencari arti kata-kata atau mencari pengertian suatau wacana kemudian mengutarakan kembali baik lisan maupun tulisan.
  • Mencari hubungan situasi: mencari atau menentukan atau menebak watu kejadian dari suatu wacana atau puisi. Menghubungkan antara situasi yang satu dengan situasi yang lain dari bebrapa wacana.
  • Menemukan pola: menentukan atau menebak suatu pola cerita yang berupa prosa maupunpola kalimat.
  • Menarik kesimpulan: mengambil suatu kesimpulan dari suatu wacana seperti induktif maupun deduktif.
  • Menggeneralisasikan: mengambil kesimpulan secara induktif namun raung lingkupnya lebih luas dari pada menri kesimpulan.
  • Menganalisis: menganalisis suatu wacana berdasarkan paragraf, kalimat, kata, dan unsur-unsur kata.

 Menerapkan :

    Menggunakan konsep: menerapkan konsep, kaidah bahasa dalam menyusun sesuatu, dapat berupa penulisan wacana atau karangan, surat menyurat, kalimat-kalimat, kata bentukan dengan memperhatikan ejaan atau kaudah bahasa.

Mengkomunikasikan:

  • Berdiskusi: melakukan diskusi, tanya jawab dengan memakai argumentasi atau alasan-alasan dan bukti-bukti, untuk memecahkan suatu masalah.
  • Mendeklamasikan: melakukan deklamasi suatu puisi dengan menjiwai sesuatu yang dideklamasikan (dapat dengan menggerakkan anggota badan, kepal, pandangan mata, perubahan air muka).
  • Dramatisasi: menirukan sesuatu peilaku dengan penjiwaan yang mendalam.
  • Bertanya: mengajukan berbagai jenis pertanyaan seperti mengarah kepada:
  • Pengetahuan
  • Pemahaman
  • Aplikasi
  • Analisis
  • Sintesis
  • Mengarang: menuliskan sesuatu dapat dengan melihat obyeknya yang nyata dulu, dengan bantuan gambar, atau tanpa bantuan apa-apa.
  • Mendramakan atau bermain drama: memainkan sesuatu teks cerita, persis seperti apa yang tertera pada bacaan.
  • Mengungkapkan atau melaporkan sesuatu dalam bentuk lisan dan tulisan (melaporkan darmawisata, pertandingan, peninjauan, ke lapangan, dan sebagainya).
  1. Fungsi Telaah Buku Teks

     Dari segi mata pelajaran atau lebih tepat dari segi ilmu yang relevan buku teks berfungsi sebagai sumber informasi penyebar ilmu atau memasyrakatkan ilmu. Bahan pelajaran yang terkandung dalam buku teks adalah berupa teori, prinsip dan generalisasi dari ilmu-ilmu tertentu. Bahan ini dikaji dan dipelajari oleh siswa. Dalam buku teks tidak pada temaptnya dibicarakan tentang hal-hal yang meragukan. Konsepyang masuk dalam buku teks haruslah konsep yang sudah mapan.

Fungsi telaah buku teks, antara lain adalah sebagai penjamin:

  • Pelaksanaan kurikulum secara konsekuen.
  • Tidak adanya unsur-unsur yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 dalam bahan pengajaran.
  • Kemantapan teori, prinsip dan generalisasi ilmu yang disampaikan.
  • Kemantapan sistematika dan jenjang bahan yang disampaikan.
  • Kesempurnaan sarana proses belajar-mengajar.
  • Tingginya kualitas proses belajar-mengajar.
  • Terciptanya efesiensi yang tinggi dalam proses belajar-mengajar.
  • Terarahnya kegiatan belajar siswa ke arah tujuan pengajaran.
  • Terpadunya teori dan praktek sehingga pemahaman siswa semakin sempurna.
  • Meningkatnya kualitas hasil pendidikan.
  • Penyebaran ilmu, memasyrakatkan ilmu.

DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Sutan Takdir, 1975, Tata Bahasa Baru  Bahasa Indonesia I dan II, Jakarta: Dian rakyat.

Depdikbud, 1981, Bahasa Indonesia I, II dan III, Jakarta: Proyek Pengadaan Buku Pelajaran, perpustakaan & Keterampilan SLU.

Greene, Harry A & Walter T Petty. 1971. Developing Langueage Skills in The Elementary Schools. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Hall-Quest, Alfred L. 1918. The Tektbook, How To Use It and Judge It. New York: Macmillan.

Kerap, Gorys, 1973, Tata bahasa Indonesia Untuk SLA,Ende Flores, Nusa Indah.

Ramlan, M.,1983, Sintaksis, Yogyakarta: Penerbit Karyono.

Samsuri, 1985, Tata Kalimat Bahasa Indonesia, Jakarta; Sastra Hudaya.

Sudaryanto, 1983, Predikat-Objek Dalam Bahasa Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan.

Tarigan, Henry Guntur, 1985. Aneka Dimensi Dalam Kurikulum Bahasa Indonesia, Bandung: IKIP Bandung .

Tarigan, Henry Guntur, 1984, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia, Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur, 1984, Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis, Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur, 1985, Pengajaran Gaya Bahasa, Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan, 1985a. Terampil Berbahasa Indonesia. (Untuk SD­−9 jilid). Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan, 1985b. Terampil Berbahasa Indonesia. (Untuk SMP­−9 jilid). Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan, 1985b. Terampil Berbahasa Indonesia. (Untuk SMA−6 jilid). Bandung: Penerbit Angkasa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *