Tendensiusitas Paradoksial

Artikel, Asal Tulis, Editor Picks, Opini
tendensiusitas paradoksial
perasaan dalam jiwa

 

Bismillah ala millati rasulillah

Tak berlebihan memang ketika suami menyayangi istrinya, atau orang tua menyayangi anak2nya, atau sebuah jamaah menyayangi tokohnya, namun secara prinsif,  inklusifitas semacam itu adalah komponen inheren yang melekat pada diri manusia,

 

utopisme dan apatisme menganalogikan air dengan manusia, yang statis lebih mudah di infiltrasi dengan hasutan dan berakibat pada berkurangnya kadar kejernihan sedangkan yang dinamis memiliki kecendrungan membuat dinamika yang berujung pada kontak dan konflik….
Peristiwa peristiwa paling akurat yang mewarnai pentas sentris kosmos manusia tak pernah menutup wajah dan tak memandang dengan tatapan yang memicing, atas segala klausul yang menyiratkan tema tema koherensif atas iradat nafsu,

 

secara komunal iradat manusia terdiri atas kehendak bebas dan keterpaksaan, elemen tersebut terselubung dan melabelkan manusia sebagai homosocius sosiologis, namun adakah diantara mereka yang tak pernah bebas dari resonansi dan apakah kesejatian mereka melebihi nafsul malaikah? Jawaban sederhananya adalah mungkin atau paling konstruktif atas itu adalah dehumanisme.

 

Dan yang paling penting yaitu prinsifle basic, yang tertanam dalam bobot, kelegendaan, popularitas atau semacamnya, yang menjadi barometer scietifik yang universal, atas dasar itu manusia arif harus berpijak pada pondasi kedirian yang kokoh dengan bertopang pada standar keshahihan dan Keshalihan sosial,….

Ushikum waiyyaya bitakwallah…

Kaltim 23- February-2015


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *