mengenang ayah

tentang ayah

Artikel, Asal Tulis

Seorang pendidik yang berjiwa besar, berwibawa, segala yang baik ada pada sosok yang selalu membina aku hingga saat ini. Tumbuh dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi kini ia adalah orang yang luar biasa dimataku. Kewibawaannya tak bisa ku pungkiri. Cara ia mendidik dan mengajar membuat aku kembali kepada apa yang mereka pinta.

 

Jika ku ingin menulis dan membaca dan hingga kini gemar membaca tulis adalah kegemaran terbesar hingga berubah menjadi sebuah bakat. Hal itu ku ikuti dari sosok yang amat ku segani pula. Ialah sosok yang sangat cantik, sosok yang sangat berharga, ialah guru, dokter bahkan maliakat bumi yang diturunkan allah untukku dan saidara-saudaraku. Ialah ibunda kami Nurhayati Abdullah.

 

Dan kini kependidikan yang sangat kurasakan mengalir begitu deras, berjalan begitu lembut. Bak air yang terus mengalir tanpa ada penghalang. Proses belajar di kelas di luar kelas ku tekuni dengan jalan yang tentunya ku modifikasikan dari yang berwibawa pula sang ayah tercinta Marhum Gorang. Semua cerita tentang Dia yang ku dapat dari bibir para rekan guru dan orang yang mengenalnya tidak pernah lepas dari kebaikan dan santun kepada semua orang.

Tampangnya memang sedikit seram. Tapi, hatinya lembut, layaknya sutera. Ia memiliki rasa kasih sayang yang penuh. Airmatanya adalah tanda bukti dimana Ia sangat memiliki sifat kasih sayang yang amat besar terhadap keluarga. Khususnya sang bunda (nenek). Sedikitpun tidak pernah membantah apalagi memarahinya. Lemah lembutnya sangat terekan dalam benakku. Dari raut wajah yang seram itu, terpancar cahaya kesabaran, dan kelembutan pula.

 

Dimata orang ada yang negative dan ada yang positif. Tapi, bagiku, dia tetap segalanya. Hari-harinya adalah belajar. Selaku seorang kepala sekolah sekolah dasar. Tentunya memiliki tanggung jawab besar terhadap guru, anak murid dan sekolah.

 

Tidak ada kata tidak sekolah, tidak ada libur dalam hidupnya. Ia terus belajar dan belajar. Ketika sakitpun ia tetap melangkahkan kaki untuk ke sekolah. Tidak ada pesan lain selain terus belajar dan belajar.

Ia hanya ingin anak-anaknya sukses dan bahagia. Sederhana itu saja yang Ia pinta dari kami tidak banyak. Tak pernah ia minta untuk dibelikan ini dan itu. Bahkan doa dari kamipun mungkin masih terlalu berat untuk Ia minta. Karena Ia tahu bahwa kami adalah tanggung jawab terbesar dalam hidupnya.

 

Ketahuilah wahai yang ku sayangi dan ku cintai. Ketika tanganku mengukir kata-kata ini diatas lembaran kertas. Wajahmu terbayang dibenakku, kekarnya badanmu terbayang jelas, peluk hangat darimu takpernah kulupakan, senyummu selalu membuat aku semangat dalam belajar. Kini ku temukan bagaimana cara untuk belajar yang sangat mudah hingga kegiatan itu sulit tuk ditinggalkan.

 

Ketahuilah ayahku, air mata ini sedang mengalir, tak akan ku biarkan diam dan berteduh dikelopak mataku ini karena tulus suci cintaku padamu ayah. Kau tahu? Karena ketulusan nasehat dan didikan darimulah. Aku seperti ini. Aku dapat belajar sepertimu ayah. Akupun sekarang dapat mencari penghasilan sendiri.

 

Bukankah kau yang pernah berkata “menabunglah”. Yah, aku harus menabung tapi uang dari mana? Maka aku harus mencari untuk tabunganku. Meskipin kecil hanya dari penghasilan pulsa tapi itu sangat cukup untuk menambah tabungan dan isi perutku.

 

Ayahku, aku punya banyak mimpi kedepan. Membahagiakanmu adalah hal yang selalu ku visualisasikan bersama malam-malamku. Kau tahu. Aku selalu bercerita tentangmu dilembaran-lembaran kertasku.

 

Kau bukan saja seorang ayah bagiku, tapi kaulah sang motivator, kaulah sang pahlawan bagi keluarga kami. Kaulah segalanya wahai ayahku. Suatu saat kau akan tahu betapa besarnya cinta kami padamu. Dan pada saatnya tiba kau akan menjadi cahaya dalam hidup kami

 

Kau membawa cahaya, kau penerang disaat gelap, kau menghangatkan disaat kami merasa dingin, kau membuat adem disaat panas menggelegar.Jari-jemariku tentu tak punya daya apa-apa tanpa ada kau yang membantu dari belakang. Aku tak akan bisa menulis kata-kata yang tersusun dalam kalimat sehingga menjadi sebuah paragraf. Kalu bukan kau yang dulu mengajarkanku satu demi satu huruf dilembaran kertas putih.

 

Ku takakan bisa membaca kalimat-kalimat yang sekarang dapat menjadi motivasi hidupku kalu bukan kau yang dulu mengajarkanku untuk mengucapkan satu persatu kata-kata itu. Kau adalah guru yang mulia. Kemuliaan dan ketulusan hatimu dalam mendidikku tak dapat aku balas dengan apapun. Ayah tulisan sederhana ini ku tulis dengan setulus hatiku untukmu.

Aku, dan keluarga mencintaimu ayah, teruslah tersenyum untuk menerangi kami. Kami mencintaimu ayah.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *