TERJEBAK DALAM EUPHORIA BUDAYA POP (Remaja Materialis, Konsumtif dan Bersifat Hedonis)

Non Fiksi, Opini

TERJEBAK DALAM EUPHORIA BUDAYA POP (Remaja Materialis, Konsumtif dan Bersifat Hedonis)

Budaya populer atau sering kita sebut sebagai budaya pop merupakan suatu totalitas ide, prespektif, perilaku, citra dan fenomena lainnya yang dipilih dan diadopsi masyarakat moderen sebagai sebuah budaya. Budaya pop menyentuh kebutuhan “manusia” dalam lingkup id (libido, hasrat, ambisi, dll). Budaya pop menuntun masyarakat lebih konsumtif, materialis, dan cendrung bertingkah hedonis. Kecendrunagn ini seberannya merusak tatanan aturan dan melanggar nilai-nilai budaya luhur (tradisional). Memang benar bahwasannya manusia dengan segala budaya dan akal budinya harus dikembangkan seoptimal mungkin, karena akan semakin mengokohkan kedudukannya dimuka bumi sebagai makhluk Tuhan yang sempurna dibandingkan dengan ciptaan lainnya.

Manusia beralih menuju rentang waktu yang kontradiksi dengan fase-fase sebelumnya, yaitu fase globalisasi. Di satu sisi manusia memang dituntut untuk berkembang menuju kearah yang lebih moderen, baik aspek teknologi, hukum, sosial/kesejahteraan sosial, politik, demokrasi, dan semua sistem lainnya harus disempurnakan. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan manusia bersifat relatif. Pengaruh negatif dari globalisasi adalah euforia budaya pop, kesenjangan sosial, munculnya gank-gank yang disebut gankster, marginalisasi kaum lemah, dan timbulnya gap-gep antaara si kaya dan si miskin dsb. Hasil tersebut telah membentuk suatu budaya baru bagi masyarakat, khususnya kaum muda remaja menjadi manusia yang terjebak dalam arus budaya pop.

Remaja dalam hal ini sebagai pelaku utama pengadopsi budaya pop dikarenakan sedang dalam masa mencari eksistensi melalui proses-proses identifikasi, membutuhkan pengakuan diri. Bagi diri yang sehat, manusia pada umumnya membutuhkan penghargaan positif seperti cinta, perhatian, rasa hormat, dan penerimaan/pengakuan. Alasan mendasar remaja mengikuti arus budaya pop adalah pemenuhan eksistensi itu oleh publik tentang keberadaan dirinya. Mereka merasa merdeka jika memiliki kebebasan untuk memilih apa yang mereka inginkan, merasa bebas jika bisa mengekspresikan diri tanpa terkekang oleh batasan norma & etika tradisional. Ada kebutuhan eksistensi yang sangat tinggi pada diri remaja, pengakuan lingkungan sosialnya bahwa dia ada, dia bisa seperti kebanyakan orang, dia mampu melakukan hal yang sama dengan orang lain lakukan, dia malu apabila tidak melakukan hal yang sama sesuai trand masa kini.

Euphoria budaya pop ini bersifat massal, seolah-olah seseorang yang melawan arus sebagai kelompok minoritas ini adalah profil abnormal. Sebagai contoh, remaja yang tidak update dengan life-style baru, tampilan cupu, si kutu buku dianggap anak kampungan yang memang tidak patut diajak dalam pergaulan sosial. Sepertinya sangat memalukan jika ada remaja yang tidak pernah nonton konser musik. Atau kelompok-kelompok aktivis yang jelas-jelas dituntut harus sosiable dalam melakukan aksi kepedulian sosial, oleh kelompok massa (pengikut budaya pop) dianggap manusia asing yang tidak menikmati masa remajanya.

Kontras sekali, Dunia musik, film, fashion, life-style sepertinya tidak pernah mati gaya sepanjang manusia masih ada dan keinginan eksistensi terus terjaga. Pemanfaatan media sebagai alat propaganda “budaya pop” ini sangat kuat menghantam objeknya dari berbagai sudut, hingga efek-efek luar biasa lahir menjadi kebiasaan yang matur (dewasa) dari proses penguatan tiada henti pada diri remaja masa kini.

Masa remaja masa penuh gaya,

Masa remaja masa butuh banyak biaya.

Masa remaja masa maya,

Masa remaja masa penuh tipu daya.

Syair sederhana ini memang tepat untuk kondisi seperti ini. Remaja yang mengikuti arus euphoria budaya pop dituntut harus menjadi materialis, konsumtif dan bersifat hedonis. Dan semua yang dilakukan itu adalah kebohongan/ kepalsuan belaka Sebagai contoh kecil dalam dunia musik yang sedang dilibas habis oleh fenomena “girl-band” dan “boyband” yang terinspirasi dari korean-music (K-pop), walau istilah ini sebenarnya juga aneh karena di dalamnya tidak ada yang bermain alat musik/band bahkan kemampuan menyanyi pun pas-pasan sehingga lipsing jadi jurus andalannya. Cukup polesan wajah yang manarik perhatian dan gaya maksimal, ditambahi sedikit kemampuan dance sebagai bumbu setiap kali performancenya. Ternyata dunia musik hanya menjadi alat yang diacak-acak untuk melakukan stigma baru memaknai sebuah eksistensi.

Pergeseran makna pun terjadi, misal cantik itu harus putih, tinggi, langsing, rambut ala korea, fashion pun demikian. Fashion juga punya peranan yang kuat dalam totalitas penampilan. Paham tentang fashion masa kini juga fashion ala korea paha, dada dan apalah itu namanya adalah bukan suatu hal yang menjadi aib lagi yang harus selalu ditutupi. Seperti pakaian yang kekurangan bakal/ bahan itulah trand masa kini. Sudah menjadi kodrat perempuan selalu ingin tampil menarik untuk diperhatikan lawan jenisnya sementara laki-laki adalah pemerhati dan penikmat apa yang ditampilkan oleh perempuan punya pandangan yang sama dengan apa yang disuguhkan perempuan dari fashion yang ditampilkannya. Sehingga tidak menutup kemungkinan tindak asusila/ pelecehan seksual sampai hubungan terlarang di luar nikah terjadi sebagai dampak dari budaya pop semacam ini. Hingga nilai moral, budaya, agama yang telah tertanam dalam diri personal sejak dulu, terkikis sebagai akibat dari arus budaya pop ini.

Bak mata rantai yang tak terpisahkan sifat materialis, konsumtif dan hendonis melekat pada diri remaja yang terbawa arus euphoria budaya pop. Materialis menyebabkan para remaja mempertuhankan harta benda, uang dsb… ‘uang buakanlah segalanya akantetapi segalanya butuh uang dan dengan uang merubah segalanya’ beginilah dalih seorang remaja yang telah terlena dengan harta. Sehingga uang tiada segala macam carapun bisa dilakukan demi menghasilkan uang meskipun keluar dari batas-batas nilai dan moral budaya buakanlah hal yang serius disikapi demi terlaksannnaya ambisi untuk turut serta mengikuti trand budaya pop. Konsumtif sebagai akibat dari ambisi yang besar dan berlebihan. Tuntutan-tuntutan untuk mengikuti trand fashion, perawatan penampilan, pergaulan dsb harus terpenuhi. Berkumpul di tempat-tempat hiburan, di club-club malam hanya untuk mencari dan menikmati kesenangan sesaat inilah sifat hedonis. Sifat hedonis remaja ini berpandangan bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai  tujuan utama dalam hidup. Hidup poya-poya, nongkrong di club-club malam dsb inilah kehidupan masa kini. Singkatnya semakin berkembangnya budaya pop di kalangan remaja beriringan pula dengan prilaku amoral akan semakin kuat dan meluas dikalangan remaja. Bukan menduga-duga tapi itu pasti!

Remaja yang hanyut terbawa arus budaya pop terjadi karena konsep diri belum tuntas dalam menyikapi stimulus yang datang. Komunikasi personal (diri) akan sangat mempengaruhi proses interpretasi stimulus menjadi sebuah keputusan tindakan yang dipilih oleh individu tersebut. Apabila penguatan diri terbentuk sebagai langkah prefentif dari pada budaya pop ini. Maka dengan sendirinya pula akan kontradiksi/ penolakan dengan paham atau konsep diri yang terbentuk sebelumnya. Euphoria budaya pop yang melanda remaja kita bukan lantas dibunuh dengan menghentikan dan melarang remaja untuk mengikuti, tapi bagaimana penguatan personal sebagai penerima dan pengolah stimulus itu dipersiapkan untuk mampu memilah sebagai konsekuensi kemerdekaan individunya.

Oleh karena itu kita sebagai kaum muda, remaja harus mampu membentengi dan memberi batasan terhadap diri terhadap sikap dan perilaku sehari-hari. Usaha ini hanya bisa tercapai melalui usaha personal bukan orang lain, ada pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Mari kita bersama membenahi diri, memberi batasan pada diri, bergaul dan ikuti perkembangan zaman tapi harus selektif dalam menerima suatu ransangan atau pengaruh budaya luar yang menyesatkan!

“So Much”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *