Terpikat Wanita Pelacur

Cerpen, Fiksi

Terpikat Wanita Pelacur

Lalu Moh. Sastra Uma

Malam begitu dingin menurunkan gerimis-gerimis dari langit, percikan air hujan menerpa di setiap jendela-jendela rumah kaca. Dengan selimut yang dipakainya yaitu Tama, anak dari Pak Selamet dan Bu’ Aminah merasa sangat kedinginan sehingga ibunya membuatkan teh panas agar terasa hangat. Tapi malam itu juga ayahnya belum pulang dari kerjanya. Bu Aminah sangat khawatir dengan suaminya, akhirnya Tama bangun dari tempat tidurnya. “ Bu, sudahlah jangan merasa khawatir begitu, sebentar lagi ayah pulang ko’ bu “. Tapi Bu Aminah tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya itu, dia terus mondar-mandir sambil memandang pintu rumah. Akhirnya Tama sudah tidak tahan lagi melihat ibunya yang gelisah. “ Baiklah kalau begitu, sekarang biar Tama yang mencari ayah, bu ? “. “ Jangan nak, ini kan lagi hujan, ntar sakit, terus ibu yang menjadi susah”. Akhirnya Tama berhenti sejenak mendengarkan ucapan ibunya . “ Benar juga kata ibu, kata Tama dalam hati “. Tiba-tiba ada suara ketuk pintu. “ Assalamu’alaikum, bu. . . ? Ni ayah “. “ Ya yah sebentar. . . “. Sambil terburu-buru menuju pintu depan dan langsung membuka pintu dengan wajah gembira. ”waalaikumsalam yah, ayah ko’ pulangnya malam begini sih, memangnya ayah habis dari mana?”. Sambil mengeluarkan nafas pelan-pelan ayah pun berkata,”tadi ayah mendapat pekerjaan tambahan dari kepala sekolah, soalnya beliau pergi ke luar kota untuk meeting”. Kebetulan profesi ayahnya Tama adalah sebagai guru honor yang mengajar di Sekolah Dasar. Rasa khawatir yang berada di benaknya Ibu Aminah akhirnya sudah menghilang. ”Baiklah kalau begitu yah, lain kali kalau ada apa-apa kasih tau ibu sama Tama ya yah”. Sambil memeluk istrinya ayah pun berkata, “baiklah bu’ lain kali ayah tidak akan ulangi lagi”. Tama pun tersenyum melihat kedua orang tuanya berpelukan”. Kemudian Tama kembali ke pembaringan dan lenyap begitu saja.

            Malam pun telah berlalu diiringi oleh sang fajar yang terbit dari ufuk timur. Tama pun keluar dari rumahnya, berjalan sambil bernyanyi mengiringi langkahnya. Sesampainya di suatu tempat, Tama melihat rumah tua yang kelihatannya sepi sekali. Dia coba-coba untuk memasuki rumah tersebut. Setelah berada di dalam rumah, Tama beredar megelilingi sekitar di dalam rumah itu, merayapi keadaan kamar yang ada. Tama berpaling sesaat mendengar dari pintu rumah. “Apa yang sedang kau lakukan di sini pemuda ?” lembut sekali nada suara wanita itu. Tama tidak bisa menjawab saking terpananya melihat sosok perempuan yang ada di hadapannya begitu cantik. Perasaan seperti mengajaknya terbang ke langit ketujuh. Sementara wanita cantik itu semakin dekat saja di depan Tama. “Kau siapa ?”, Tama mulai membuka mulut. “Namaku Kinanti, aku tersesat untuk mencari jalan pulang”, dengan suara lembut. Tama tersenyum manis lalu melanjutkan pertanyaannya. “Emang, rumahmu di mana ?”. “Di desa sebelah, “ sambil gadis itu tersenyum tipis. Keduanya saling pandang dengan tatapan mata yang tajam. Aroma harum yang begitu tajam menyengat hidung, membuat seluruh kepala pemuda ini terasa pening. Tiba-tiba Tama kaget melihat jari-jari tangan yang lentik dan halus mulai bermain-main di dada Tama yang bidang begitu lembut. Kesadaran Tama benar-benar lenyap, saat bibir yang memerah indah milik wanita itu mengecup halus bibirnya. Tama tidak lagi menguasai kesadaran dirinya. Tangannya segera dilingkarkan ke pinggang yang ramping terbungkus baju yang sangat tipis. Sehingga, mereka bagai tidak memiliki pembatas lagi. Tama langsung saja mengangkat wanita itu ke dalam kamar yang ada di rumah itu.

            “Peluklah aku, cumbulah sepuasmu, , , “ desah wanita itu lirih dan lembut sekali. “Kau. . kau cantik sekali. . ,“ desis Tama bergetar. Puaskan dirimu. Cumbu aku. . “, bisik wanita itu. Bisikan-bisikan yang halus dan lembut, disertai sapuan-sapuan lembut dari jari-jari tangan lentik, membuat Tama tidak mampu mengendalikan diri. Perlahan-lahan direbahkannya tubuh wanita itu ke pembaringan. Tangannya agak gemetar, pakaian yang dikenakan wanita itu mulai dilepaskannya. Kedua bola matanya tak berkedip merayapi bentuk tubuh yang begitu indah, terbaring polos tanpa selembar benang pun yang menutupinya. Dan saat itu pula pakaian Tama juga terlepas. Dan terjadilah hubungan yang terjadi antara dua sosok tubuh yang bergelut dalam lautan birahi yang menggelora. Dan dua sosok tubuh itu kini mulai berkilatan oleh keringat.

            Entah berapa lama mereka bergelut mengarungi samudra keindahan asmara. Selesainya dari hubungan kenikmatan dunia. Tama tiba-tiba kaget dan sadar, bahwa kini dia telah bercumbu dengan seorang wanita pelacur.

Tama pun bangun dari tidurnya. “Astagfirullah. . “, Tama mengucapkan istighfar berkali-kali. “Dosa apa yang telah aku perbuat, sehingga aku bermimpi bercumbu dengan wanita pelacur”. Tama terus memikirkan apa maksud dari mimpinya semalam.

            Akhirnya Tama keluar rumah untuk mencari temannya yaitu yang bernama Zahid, seorang ustaz muda di kampung Tama yang bernama kampung Kebun Waru. Jarak antara rumah Tama dengan Zahid cukup renggang, sehingga harus melewati hutan. Sesampainya di rumah ustaz Zahid, Tama melihat ustaz itu dengan seorang diri yang sedang minum teh di teras depan rumah. “Assalamualaikum ustaz ?”, sambil senyum. “Waalaikumussalam . . “, membalas senyumannya pula. Lalu si ustaz pun langsung menyuruh Tama duduk. “Ustaz ndak ada kerjaan ?”, berkata si Tama dengan nada pelan. “Ndak ada Tam, ente lihat sendiri kan ane ini lagi duduk-duduk aja”. “Gini ustaz, kedatangan saya ke sini untuk menanyakan arti dari mimpi saya semalaman”, berkata si Tama. “Emang, mimpi apa ente semalam”, berkata si ustaz dengan agak penasaran. “Anu ustaz, Aaa . . . (Tama berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya), tadi malam saya bermimpi sedang bercumbu dengan wanita pelacur, dan. . pas saya bangun tu saya langsung kaget dan terus berulang kali membaca istighfar, saya terus berpikir tentang apa arti semua ini”. “Sekarang ane tanya sama ente, apakah ente sudah menyakiti hati seorang perempuan ketika ente berpacaran ?”, si ustaz langsung saja mengajukan pertanyaan pada Tama. Dengan agak-agak malu Tama menjawabnya dengan pelan, “Iya . . . ustaz”. “Sudah berapa perempuan yang ente sakiti”, si ustaz mengajukan pertanyaan lagi. “Mungkin 5 ustaz”, menjawab si Tama. “Nah, udah jelas kan, itu artinya kalau ente terus-terusan menyakiti hati si perempuan, dan bercinta hanya untuk mengambur-amburkan nafsu belaka, maka lambat laun ente bisa saja akan mendapatkan perempuan yang nggak bener”. Tama hanya menundukkan kepala dan menyadari akan kesalahannya selama ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *