The Dog Who Dared to Dream Hwang Sun-Mi

Resensi Novel The Dog Who Dared to Dream

Resensi, Buku

The Dog Who Dared to Dream, novel kedua Hwang Sun-Mi ini membawa kita ikut mengunjungi ruang kesepian yang ada di hati para orang tua. Ketika anak mereka mulai tumbuh besar dan memiliki kehidupan mereka masing-masing. Melalui sudut pandang seekor anjing betina bernama Bulu Panjang.

Hwang Sun-Mi selalu bisa menceritakan relasi orangtua-anak khususnya di Asia yang masih sangat saling bergantung satu sama lain. Diceritakan melalui kisah Fable hewan-hewan yang ada di sekitar kita.

Novel-novelnya membuat kita memahami satu hal. Menjadi orangtua, cepat atau lambat, mengharuskan kita belajar untuk “Melepaskan”.

Bulu Panjang terlahir paling berbeda dari saudara-saudaranya. Bulunya paling panjang dan berwarna sangat hitam, namun saat musim dingin tiba, ada beberapa bulu yang mencuat berwarna putih. Sementara saudara-saudaranya berwarna kuning, putih, dan warna-warni lazim lainnya.

Bulu Panjang dan Keluarganya tinggal bersama seorang lelaki tua bernama Tuan Pita Suara dan isterinya yang biasa dipanggil Nenek. Karena paling berbeda dari saudara-saudarnya, ia sering diperlakukan tidak hangat.

Namun, Bulu Panjang tetap menyayangi keluarganya, terutama ibunya. Konon Bulu Panjang mendapatkan gen ras tertentu dari kakek buyutnya.

Baca Juga : Review Drakor Hometown Cha Cha Cha

Suatu hari, saat rumah Tuan Pita Suara sepi, seorang pencuri anjing mencuri semua keluarga Bulu Panjang. Di malam yang beku, Bulu panjang kembali ke rumah Tuan Pita Suara hanya dengan membawa sebelah sepatu si pencuri. Meski Bulu Panjang telah berusaha menyelamatkan mereka, namun ia tetap berakhir sendirian.

Tuan Pita Suara geram, anjing-anjing yang seharusnya bisa ia jual malah dicuri. Namun ia tak bisa melakukan apapun. Kini ia hanya memiliki Pita Suara seekor. Bulu panjang yang sangat sedih dan kesepian kini hanya seorang diri di rumah tuan Pita Suara. Ia hanya ditemani seekor kucing tetangga tua yang menyebalkan.

Waktu berlalu, Bulu Panjang bertemu dengan seekor anjing berbulu seputih salju yang menyelamatkannya dari pertikaian. Mereka kawin dan Bulu Panjang memiliki beberapa ekor anak. Ia akhirnya bisa merasakan indahnya menjadi seorang ibu dan membesarkan anak-anak lucu di rumah Tuan Pita Suara.

Baca Juga Resensi Novel Dari Penulis Yang Sama: The Hen Who Dreamed She Could Fly, Cocok Jadi Teman Ngeteh

Namun kebahagiaan tersebut tak bertahan lama, karena kebutuhan ekonomi, Tuan Pita suara akhirnya menjual anak-anak Bulu Panjang. Bulu Panjang sangat murka hingga ia akhirnya menggigit tangan Tuan Pita Suara.

Meski begitu, namun Bulu Panjang tetap tinggal dengan tuannya hingga ia beranak lagi, setelah kawin dengan anjing berburu berwarna cokelat.

Tuan Pita Suara kembali menjual anak-anak Bulu panjang, namun kali ini lelaki yang telah ditinggal menikah oleh anaknya tersebut menyisakan seekor anak yang diberinama Gori untuk Bulu Panjang. Hal tersebut sangat membahagiakan bagi Bulu Panjang.

Lalu, rumah Tuan Pita Suara bertambah ramai dengan hadirnya seekor ayam jantan yang dipanggil Kakak Ipar oleh Gori dan Bulu Panjang. Tuang Pita Suara, Nenek, Bulu Panjang, Gori, Kakak Ipar, dan Kucing Tua. Mereka hidup bersama dengan hate-loveĀ  relationship selayaknya kehidupan manusia pada umumnya.

Meski hanya menceritakan kisah anjing, kucing tua, ayam jantan, dan lelaki tua. Namun, Novel The Dog Who Dared to Dream ini terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Baik melalui kisah Bulu panjang maupun Tuan Pita Suara, keduanya menggambarkan kehidupan sebagai orangtua Asia yang rentan kesepian.

Hubungan pertemanan antara Bulu Panjang-Tuan Pita Suara, Bulu Panjang-Kucingtua, dan Bulu Panjang-Kakak Ipar juga sangat mencerminkan hubungan antar tetangga. Yang meskipun banyak hal menyebalkan telah dilewati bersama, namun keberadaan satu sama lain sama-sama saling mengisi.


Komentari Tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *