soekarno 1

Tokoh Nasional dalam Film: Meninjau Keberatan Keluarga Soekarno

Opini

Johan M: Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unram

Film Soekarno muncul dalam berita nasional di bulan Desember sebagai topik tren, sayangnya tidak dalam konteks bahasan mengenai capaian film tersebut, melainkan tentang sesuatu yang lain, yang cenderung memperlihatkan betapa Soekarno saat ini bukan lagi milik masyarakat Indonesia, melainkan hanya menjadi milik keluarga—keluarga Soekarno.

Isu pertama yang amat mengganggu ialah mengenai pencurian ide. Hanung, sang sutradara film, dituduh mencuri ide Rachmawati. Tuduhan ini tentu saja amat berlebihan karena selain mereka berdua, sebagaian besar para pekerja kreatif, kalau bukan semuanya, pasti pernah bermimpi akan menjadikan Soekarno sebagai bagian dari proyek kreatifnya. Dalam deretan tokoh nasional, Soekarno sulit dicari tandingannya, terutama dalam pengaruh dan ketenaran. Fakta inilah yang dapat menggerakkan penulis buku biografi bermaksud menulis biografi Soekarno, penulis novel bermaksud menulis novel tentang Soekarno, penyair bermaksud menulis epos tentang Soekarno, dan para sutradara berharap dapat menghadirkan Soekarno dalam film garapan mereka. Sebagai seorang sutradara, Hanung mendapatkan posisi paling tinggi dalam menentukan bagian mana dari manuskrip yang akhirnya akan dimunculkan kepada para penonton film. Tuduhan Rachmawati terhadap Hanung yang dianggap mencuri ide pembuatan film Soekarno seperti mendengar seseorang yang datang rekreasi ke tepi pantai dan ingin mendayung perahu ke tengah laut, lalu nelayan yang benar-benar pergi melaut dituduh telah mencuri idenya.

Di dunia kerja yang membutuhkan kreatifitas, peran ide tidak terlalu banyak. Umberto Eco menjelaskan bahwa dalam menulis, ide itu perannya hanya satu persen dan sembilan puluh sembilan persennya adalah kerja keras. Kalaupun benar ide pembuatan film Soekarno dari Rachmawati maka haknya atas film yang telah jadi itu hanyalah satu persen. Dan mengingat film Soekarno telah rampung dan kini ditayangkan di bioskop-bioskop maka Rachmawati mestinya mengambil sikap yang lebih arif, minimal dengan tidak mengajukan penghentian penyiarannya, kalau memang masih berat hati mengucapkan terima kasih. Bagaimanapun juga kerja keras Hanung telah membuat masyarakat Indonesia akhirnya dapat menyaksikan figur Soekarno sebagai salah satu kesempatan menengok kembali sejarah kemerdekaan dengan cara yang cepat dan menyenangkan. Rachmawati, dan keluarga Soekarno yang lain, yang merasa memiliki hak atas ide pembuatan film Soekarno mungkin perlu mencermati apa yang telah dikemukakan oleh Wendell Holmes Jr bahwa banyak gagasan tumbuh lebih baik jika ditanamkan ke dalam benak orang lain daripada di dalam benak tempat ia mula pertama dilahirkan.

Isu kedua, yang lebih bisa dibuktikan secara fisik ialah tuduhan bahwa Hanung membuat film Soekarno berdasarkan skenario opera Mahaguru. Pernyataan Hanung yang dikutip oleh Suara Pembaruan (Rabu, 18 Desember 2013) menjelaskan bahwa Rachmawati memang pernah mengundang sang sutradara pada acara gladi resik opera Mahaguru. Pada kesempatan itu Rachmawati mencetuskan ide untuk membuat film tentang Soekarno yang diakui Hanung juga kebetulan memang sedang ia rencanakan pembuatannya karena termotifasi oleh keberhasilan film sebelumnya, Sang Pencerah. Tribunnews (Rabu, 18 Desember 2013) mengutip sumpah Hanung yang menyatakan bahwa dia tidak pernah menerima skenario dari opera Mahaguru. Sebagai pembelaan di hadapan media massa, sumpah Hanung itu mungkin diperlukan, tetapi dalam konteks menghasilkan karya kreatif, penilaian penonton dan kritikus jauh lebih tepat dijadikan sebagai pembuktian kebenaran.

Sebelum ada kritikus yang nanti akhirnya dapat membuktikan bahwa naskah skenario film Soekarno sama dengan opera Mahaguru maka Hanung sebenarnya tidak perlu terlalu cemas sampai harus menyatakan sumpah di hadapan publik. Sutradara berpengalaman seperti dirinya tentunya memahami benar bagaimana menghargai karya kreatif. Kesamaan pada bebepara bagian dalam sebuah karya kreatif sangat sulit dihindari karena selain tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di atas dunia ini, juga karena dalam karya kreatif selalu ada kemungkinan apa pun yang pernah muncul sebelumnya berpotensi menjadi hipogram bagi karya yang lahir kemudian, entah sengaja atau tidak.

Isu ketiga, permintaan Rachmawati pada PN Jakarta agar menghentikan penayangan film Soekarno, hanya gara-gara dua adegan pada skrip halaman tiga puluh lima yang ternyata tidak ada dalam adegan di film sepertinya makin menunjukkan bahwa Rachmawati sebenarnya tidak terlalu memahami apa yang sedang dilakukannya. Daripada membiarkan Rachmawati menyerahkan persoalan ini ke tangan pengacara, akan sangat baik jika Guruh, yang merupakan seniman dan juga putra Soekarno diberi kesempatan untuk meninjau persoalan ini dari sudut pandang seorang yang kerap terjun dalam industri seni kreatif. Jika masalah seputar film Soekarno tetap dibiarkan hanya menjadi bagian dari usaha Rachmawati untuk membenarkan pernyataan dan tindakannya maka keluarga Soekarno harus siap menerima anggapan masyarakat bahwa sekarang Soekarno ternyata hanya menjadi milik keluarganya. Jika Soekarno benar-benar milik masyarakat Indonesia dan dunia, sudah seharusnya ada kebebasan bagi penulis dan pembuat film dalam menginterpretasi sosok Soekarno.

Sebagai contoh yang masih segar, tentang multitafsir yang tidak membawa kehebohan seperti yang kini dialami saat penanyangan film Soekarno adalah munculnya dua film tentang tokoh yang sama namun menceritakan dua sisi kehidupan yang boleh dianggap sangat berbeda karena di film pertama digambarkan sebagai pemburu vampir dan di film kedua digambarkan sebagaimana ia umumnya dikenal oleh masyarakat dunia. Kedua film yang diperoduksi di tahun 2012 itu mengisahkan sosok Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat yang terkenal dengan upayanya memperjuangkan undang-undang pembebasan budak.

Film yang muncul lebih awal berjudul Abraham Lincoln: Vampire Hunter, sebuah film hororlagafantasi, berdasarkan novel karya Seth Grahame-Smith. Film yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov dengan Tim Burton tersebut menggambarkan sang presiden sebagai pemburu vampir. Inspirasi film ini jelas dari salah satu bagian hidup keluarga Lincoln yang mungkin tidak banyak mendapat perhatian yaitu mengenai penyakit misterius yang tidak dapat dijelaskan waktu itu hingga menyebabkan nyawa putra sang presiden tidak dapat diselamatkan. Film kedua yang muncul sekitar empat bulan kemudian berjudul Lincoln, disutradarai oleh Steven Spielberg bercerita tentang situasi yang dihadapi oleh presiden AS ke-16 itu dalam mengambil keputusan pada saat perang saudara juga di saat yang sama memperjuangkan undang-undang pembebasan budak di kabinet.

Dengan demikian, menganggap bahwa Soekarno hanya bisa digambarkan dengan tepat oleh keluarganya akan sangat membatasi ruang kreatif yang akhirnya bermuara pada hasil kerja serba tanggung dan tidak layak disajikan di tengah-tengah masyarakat yang sudah cerdas. Keluarga Soekarno, dan keluarga lain, yang merasa menjadi bagian dari seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakat, sepertinya perlu membiasakan diri berpikir terbuka dan tidak buru-buru keberatan hanya karena ada bagian cerita yang dianggap menyuguhkan gambaran yang kurang tepat. Sesungguhnya kehidupan seseorang bebas ditafsirkan oleh siapa pun karena yang paling tahu tentang diri seseorang selain Tuhan adalah orang itu sendiri. Orang di luar diri sang tokoh selalu akan menghadapi lorong suram dan gelap yang mungkin akan diterangi oleh orang lain yang secara serius memberikan perhatian meskipun sama sekali tidak memiliki ikatan darah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *