TRADISI BUDAYA BETIMPAS KERAJAAN RUNGKANG

Berita, Budaya & Folklor, Non Fiksi

TRADISI BUDAYA BETIMPAS KERAJAAN RUNGKANG

Lombok dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan berbagai tradisi, ritual, adat, dan budaya. Salah satu tradisi adat yang masih terjaga adalah upacara betimpas. Upacara betimpas merupakan tradisi tahunan masyarakat kampung slanglet. Upacara ini adalah warisan budaya yang paling tua di desa tersebut, namun masih lestari hingga sekarang. Upacara ini dimulai sejak tahun 1757.
Upacara betimpas memiliki sejarah yang panjang dan hanya ditemukan didesa selanglet kecamatan praya barat Lombok Tengah. Lahirnya budaya budaya betimpas, berawal dari munculnnya penyakit cacar yang melanda seluruh daerah yang ada dipulau Lombok untuk mengobati penyakit cacar tersebut warga selangletmengadakan ritual mandi betimpas.betimpas berarti pisah maksudnya air yang pecah menjadi beberapa bagian yang mengalirkan penyakit. Oleh karna itu,dalam upacara betimpas masyarakat dimandikan guna untuk menghindari segala penyakit khususnya penyakit cacar.
Misbah, selaku mangku adat (ketua adat) yang ada di desa selanglet, saat ditemui disela-sela kesibukannya di rumahnya menceritakan mengenai budaya betimpas yang ada di desa tersebut, “upacara betimpas dilaksanakan pada hari jum’at , bulan ke tujuh berdasarkan kalender sasak”
Upacara betimpas dimulai pada malam jumat. Kegiatan di awali dengan menyiram seluruh pinggiran kampung pada malam hari oleh mangku adat besert beberapa orang laki-laki
kampung. Penyiraman di mulai dari arah barat daya. Dalam pelaksanaaannya, saat mengelilingi kampung, semua orang harus menahan napas. Kegiatan selanjutnya dilakukan pada pagi hari yaitu pemasangan bambu liar pada empat jebak gubuk. Hal ini dinamakan sembek kampung Setelah itu dilakukan ritual pengambilan air dari semua sumur yang ada didesa tersebut. Setelah itu dilakukan pembakaran kemenyan sekaligus penaruhan kepeng bereng (raja uang logam ) pada bak air yang disediakan, untuk mandi. Masyarakat kampung juga harus membawa uang logam yang juga diletakkan di dalam kolam berisi kepeng bereng tadi, yang bertujuan untuk mengetahui berapa banyak masyarakat yang datang pada upacara tersebut.
Masyarakat saat datang ke tempat pemandian tersebut akan membawa makanan berupa nasi taru dan ayam panggang, untuk sebagai santapan bersama setelah upacara pemandaian berakhir. Sisaa-sisa makanan ini kemudian akan dikumpulkan dan dijadikan sesajen yang akan di letakkan di tempat yang hanya diketahui oleh mangku.
Sebelum dimandikan masyarakat melakukan pelemparan koin ke dalam bak air. kemudian mangku adat mengambil bebepa pelapah pisang yang sudah dirobek-robek untuk melakukan ritual mandi . Pemandian yang dilakukan dari bebrapa fase yaitu
berawal dari pemandian bayi kemudian anak-anak dan nantinya berlanjut kepada orang yang dewasa dan diakhiri oleh kaum tua.
Setelah acara pemandian selesai dilakukan ritual penyembeqan, yaitu peletakkan sembek di kening. Setelah itu dilakukan proses makan bersama. Sebelum proses makan bersama dilakukan mangku adat mengambil semua kepala,sayap,dan kaki ayam yang dibawa oleh masyarakat.masing-masing.
Upacara ini tidak boleh diikuti oleh orang yang berasal dari luar kampung, namun jika nanti ada orang luar yang meninjau tidak boleh melalui garis batas yang sudah di tentukan.
Stelah acara selesai semua para warga kampung pulng dan semua bekas makanan dikumulkan menjadi 1 yang nantinya makanan tersebut akan dijadikan sesaji buat para mahluk (jin) yang ada disana guna berdasarkan kepercayaan untuk sama-sama menjalin ikatan yang baik antara kerjaan manusia dan jin dan mereka tidak mengggangu para warga yang ada disana. Itu dilakukan penempatan sesajen pada malam hari yang dilakukan disuatu tempat yang diketahui oleh mangku adat itu sendiri. Apabila terjadi kesalahan pada ritual tersebut maka mangku akan di datangi oleh jin, maka ritual harus diulang pada bagian yang salah.
Upacara ini selain dilakukan untuk menolak bala juga untuk mempertebal rasa persaudaran antar sesama warga kampung. Begitulah alas an mengapa Misbah, selaku mangku, tetap berusaha melestarikannya dengan tetap melaksanakan upacara tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *