orang tua bangka 1

Tua Bangkai

Cerpen, Editor Picks, Fiksi, HIburan

Aku benci bercerita dengan nenek. Ia terlalu membuat telingaku tak nyaman. Ketika aku bercerita bahwa pacarku berhidung mancung, ia marah lalu menceritakanku bahwa ia dulu tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Saat ku tanya kakek, ia menjawab nenek dulu wanita yang buruk rupa dan pengeluh. Aku terpingkal-pingkal.
Saat musim panas lalu, aku membawa teman lelaki ke rumah dan mengenalkannya dengan nenek, ia mulai mengoceh lagi, kemudian aku membawa teman laki-lakiku ke gudang dan berciuman disana. Ia berteriak dan memukul pantatku sampai aku kesulitan duduk.
Pada musim hujan sebelumnya aku mengenalkan teman-temanku pada kakek, ia hanya tersenyum meski aku tak suka melihat gigi yang sudah terlepas dari tangkainya. Nenek datang kemudian mengatakan bahwa teman-temanku terlalu berisik jika bermain disini. Aku menangis meminta maaf padanya lalu berlari ke taman.
Ia kini sakit, bagiku itu sangat menyebalkan. Ia selalu menghabiskan waktu bermainku dengan menjaganya di rumah seharian. Kakeku juga sudah ada di panti sosial sejak setengah tahun lalu, ketika bibi ingin mengantarkan nenek ke sana, ia beralasan tak tahan makan dengan prabot plastik. Bibi pulang dengan kecewa.
Hari ini ia terlalu berlebihan. Menyuruhku duduk dan diam dgihadapannya seharian sampai perutku sakit karena belum makan dan pahaku kesemutan karena menahan kepalanya yang bersandar di sana. Ia mengatakan aku harus menjadi wanita kuat seperti dirinya dan harus mendapatkan suami yang lebih baik dari kakek. Kakek terlalu menyukai seni. Itu katanya.
Aku hanya mengangguk tanda bosan. Tapi ia tak menghiraukannya. Aku pergi dan membiarkannya sendiri di kamar itu dengan bantal pengganti pahaku. Aku berlari ke belakang rumah mencari pohon oak tua yang telah ku tulis dengan batangnya. Aku menghitung angka-angka disana. Aku ingat saat usia dini aku selalu diajarkan menulis disana oleh nenek, aku diajarkan memanjatnya sampai kakiku berdarah. Aku ingat ternyata sudah 23 tahun aku tinggal dengan nenek, dan sudah 5 tahun ia sakit begini.
Aku kembali ke kamar untuk memberinya ciuman. Aku ingin sekali mengatakan aku tak pernah marah padanya. Aku hanya kesal karena ia selalu membedakan zamannya dan zamanku. Aku membuka pintu dan melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Ada bangkai tua terbujur kaku memeluk bantal.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *