Unram Kembali Menerapkan Kebijakan Kapitalis Kali ini Unram Memeras Mahasiswa Penerima BIDIKMISI Untuk Tinggal dan Mengontrak di Asrama Mahasiswa.

Opini

Unram Kembali Menerapkan Kebijakan Kapitalis Kali ini Unram Memeras Mahasiswa Penerima BIDIKMISI Untuk Tinggal dan Mengontrak di Asrama Mahasiswa.

Unram Kembali Menerapkan Kebijakan Kapitalis

Kali ini Unram Memeras Mahasiswa Penerima BIDIKMISI Untuk Tinggal dan Mengontrak di Asrama Mahasiswa.

 

Oleh : Fitri Ardyanti

 

          Berdasarkan fakta yang berkembang saat ini, Universitas Mataram telah menerapkan sebuah kebijakan terhadap mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi (Beasiswa Miskin Berprestasi) angkatan 2014 untuk menetap di asrama kampus Unram selama enam bulan. Kebijakan tersebut dinilai merugikan mahasiswa Bidik Misi. Pasalnya kebijakan tersebut mulai diberlakukan oleh Universitas Mataram tepatnya pada bulan November tahun 2014. Sekitar empat bulan setelah mahasiswa aktif dalam perkuliahan, logikanya mahasiswa sudah memiliki kontrakan atau kos yang sudah mereka bayarkan selama itu, kemudian dengan munculnya kebijakan tersebut mengharuskan mahasiswa untuk meninggalkan kos atau kontrakan yang sudah mereka biayai tersebut.

Mahasiswa bukan hanya dipaksa untuk tinggal tetapi harus membayar dengan nominal yang cukup tinggi yaitu Rp 250.00-00 perbulannya dan langsung dipotong dari anggaran beasiswa yang diterima mahasiswa. Total anggaran yang dihabiskan mahasiswa adalah Rp 1.500.000-00 selama tinggal di asrama.

Ditinjau dari pedoman pelaksanaan beasiswa Bidik Misi memang ada yang menyatakan bahwa anggaran biaya hidup dapat ditentukan oleh pihak kampus dan besaran anggaran tersebut adalah Rp 3.600.000-00, tetapi tetap saja pihak kampus tidak berhak menentukan tempat tinggal mahasiswa. Sehingga dinilai pihak kampus ingin memonopoli aliran anggaran beasiswa tersebut bagaimana tidak? Pihak kampus memberikan ancaman berupa pencabutan beasiswa bagi mahasiswa yang menolak untuk tinggal dan membayar di asrama. Bukan hanya mengatur tempat tinggal mahasiswa, pihak kampus juga mengatur “tempat makan” mahasiswa, realitas yang terjadi di asrama putri bahwa mereka (mahasiswi) tidak diizinkan membawa makanan atau alat masak dari rumah atau dari luar, mereka diharuskan untuk membeli makanan di kantin asrama, bukankah ini suatu bentuk perputaran ekonomi yang sistematis? Dan mahasiswa dipaksa untuk melakukan hal tersebut sungguh ironis, di zaman demokratis bahkan mahasiswa masih diatur “tempat makan”nya.

Fasilitas Asrama

Dipaksa tinggal diasrama dengan membayar dan diatur tempat makannya ternyata bukan satu-satunya masalah yang dihadapi mahasiswa bidik misi, mereka harus menghadapi kesulitan karena fasilitas yang disediakan di asrama mahasiswa sangat buruk. Mulai dari jumlah kamar mandi yang tidak sesuai dengan jumlah penghuni asrama hingga kamar mandi yang kering karena tidak adanya air khususnya di asrama putri. Sejak beberapa minggu lalu banyak terlihat mahasiswi yang mengantre untuk mandi di masjid Babul Hikmah Unram, mereka adalah penghuni asrama yang tidak bisa mandi di asrama karena kesulitan air. Bagaimana mahasiswa tidak merasa dirugikan dengan hal tersebut, harus meninggalkan kos atau kontrakan ke tempat yang lebih buruk fasilitasnya.

Refleksi

Mengingat kembali tujuan utama dari penyelenggaraan program Bidik Misi, beasiswa tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa miskin dan berprestasi, jelas apa pun alasannya mereka (penerima beasiswa) termasuk orang miskin. Melihat realitas yang terjadi di Unram mahasiswa penerima Bidik Misi dipaksa membayar kemudian dipaksa makan di kantin asrama, ini merupakan pemerasan yang dilakukan oleh pihak kampus, disamping itu unram tidak berhak memperlakukan mahasiswa seperti ini. Karena ini termasuk pelanggaran HAM (hak asasi manusia) oleh karena itu hal ini perlu ditindak tegas oleh aparat yang berwenang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *