“Wadu Ntanda Rahi” karya Alan Malingi

Resensi

Identitas Buku·        

  • Judul Buku             : Wadu Ntanda Rahi
  • Pengarang               : Alan Malingi
  • Genre                       : Kesetiaan, Percintaan, dan Penantian
  • Penerbit                   : CV. MAHANI PERSADA

 Jl.Meninting Raya No. 47 Kekalik

Mataram-Nusa Tenggara Barat

  • Tahun Terbit          : Juli 2004 dan Juli 2007
  • Tebal Buku             : 273 Halaman
  • ISBN                        : 979 – 98814 -0 – 4

 

 

  • Sinopsis novel

WADU NTANDA RAHI ( Batu Memandang Suami)’’

Dana Mbojo ( Bima / Dompu )

Pada zaman dahulu ada suatu legenda di dana mbojo kel. mangge maci, doro bedi . Disana terdapat sebuah desa yang terdiri dari beberapa kepala keluarga dan penghasilan warga sekitar dari hasil bertani ataupun berkebun . Di desa itu pula, hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua dan renta yang bekerja sebagai petani yang bernama ina Male dan Ompu Nggaro. Ina Male dan Ompu Nggaro ini memiliki seorang putra yang bernama La Ngusu. La Ngusu merupakan sosok laki-laki yang penuh dengan semangat, baik dan sangat menghormati orang tuanya. Dan di ladang sebelah, ada  seorang gadis sebatang kara yang diangkat dan dibesarkan oleh seorang lelaki yang bernama ompu Wila, gadis tersebut bernama La Nggini.

Kecantikan dan kebaikan yang dimiliki oleh La Nggini ini membuat laki-laki didesanya menginginkannya sebagai seorang istri, akan tetapi la nggini tidak pernah memberikan kesempatan kepada lelaki yang ingin mendekatinya .

Pada suatu hari la ngusu sedang bekerja di sawah bersama ina male dan ompu nggaro, di tengah pekerjaannya dia terhenti karna melihat sosok gadis yang cantik nan anggun yaitu La Nggini, La Nggini yang datang ingin memberikan makan siang untuk Ina Male dan Ompu Nggaro juga tak menyangka akan bertemu dengan La Ngusu. Sejak saat itulah benih-benih cinta tumbuh diantara mereka. Setiap hari mereka bertemu dan mereka saling beradu kasih dengan melontarkan patu mbojo.

  • La Ngusu

Pai wara dou malao ese wura

Kadidiku kafero ntara diweha kai oi wunga rindi ai

Ti loaku maru sebala ai mamore

Bakawaraku pahumu di lingga pohu

( jika ada orang yang pergi kebulan )

( akan kutitip satu bintang tuk kuambil waktu tengah malam )

( sepanjang malam mata tak terpejam )

( mengingat wajahmu yang selalu terbayang ).

  • La Nggini

 

Doro ma leme ku langka lima

Oi madei lampakai ndai dua

Batu ca’u ra ne’e ti bade doro mana’e

Be ra lao kai mode nci’I kaiba nawa mada

 

( Gunung menjulang tinggi akan kudaki)

( dalam air kulewati berdua)

( demi cintaku padamu tak perduli gunung dan rimba)

( dimapun kau pergi kekasihku aku turut serta)

 

  • La Nggusu

 

Waraku siwe sabua, sampela kampo sabae

Ra loaku lamba ncora ao ba balumba

Balumba mana’e, batu ca’u ra ne’e

Balumba ma anco ndaima cua anca

( ada seorang gadis di kampung seberang)

( Kubertandang dihadang ombak )

( Ombak besar kuterjang megikuti kemauan cintaku)

( Ombak yang menggulung kita yang sedang bercumbu).

 

Setelah beberapa hari mengenal La Nggini, La Nggusu selalu memikirkan La Nggini dan ia berniat untuk pergi bertandang ke rumah La Nggini di desa seberang. Saat kedatangan La Ngusu, Ompu Wila menerima dengan baik  kedatangan La Ngusu, dan La Ngusupun mengutarakan keinginannya untuk mempersunting La Nggini. Akan tetapi , Ompu Wila memberikan syarat yaitu harus menyerahkan beberapa ikat padi, buah-buahan dan mendirikan rumah. Dan La Nggusu menyanggupin persyaratan yang diberikan.

Kemudian La Nggusu pun pulang dan dia menceritakan niatnya tersebut kepada kedua orang tuanya dan orang tuanya pun setuju dengan niatnya itu, siiring berjalannya waktu persyaratan yang di minta oleh Ompu Wila dapat di selesaikan oleh La Ngusu dan merekapun menikah.

Setelah menikah , mereka menempati rumah yang telah di buat oleh La Ngusu sebagai syarat nikah dan merekapun meninggalkan orang tua mereka masing-masing. Setelah dua bulan menikah La Nggusu merasa tidak ada perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Dia selalu pergi melaut, ketika berada di tengah laut La Ngusu berniat untuk pergi merantau ke Goa ( makasar) agar kehidupannya dengan La Nggini dapat lebih baik. setalah pulang melaut La Ngusu pun menceritakan niatnya tersebut kepada istrinya, dan saat mendengar ke inginan suaminya itu La Nggini tidak menyetujui keinginnya suaminya, setiap hari dia selalu memikirkan dan selalu menangis karena hal itu. Kemudian La Ngusu selalu merayu dan meyakinkannya sehingga La Nggini menyetujuinya.

Tibalah harinya dimana La Ngusu berangkat untuk merantau, dan orang tuanyapun kaget karena baru mengetahui keinginan anaknya itu akan tetapi orang tua La Ngusu tidak bisa berbuat apa-apa dan mereka memberikan restunya untuk La Ngusu begitupun dengan Ompu Wila.

Ketika kapal yang akan membawa La Ngusu akan segera berangkat, La Ngusu memberikan Pasapu Monca kepada La Nggini.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahunpun berlalu, tak pernah ada kabar dari La Ngusu. Dan musibah yang menimpa La Nggini datang berturut-turut. Ompu Wila meninggal saat bencana melanda kampung mereka. Disusul lagi dengan kematian Ompu Nggaro .

Kini tinggallah dua sosok perempuan yang lemaah, demi menyambung hidup , La Nggini bekerja di ladang tetangga dan sawah-sawah demi mendapatkan makanan. Siiring berjalannya waktu, Ina Male sering sakit-sakitan dan Ina Male pun memiliki keinginan untuk bertemu dengan anaknya. Tapi sebelum keinginannya tercapai Ina Male meninggal dunia.

La Nggini kini hanya tinggal sebatang kara, ia bekerja keras untuk menyambung hidupnya. Suatu hari, ada seorang sahabat yang datang menawarkan La Nggini untuk bekerja di pelabuhan menjaga warung yang ia miliki . la ngginipun menyetujuinya, ia berharap dengan bekerja  di pelabuhan ia bisa mendapatkan atau mendengar informasi tentang suaminya.

Setelah beberapa hari bekerjs di warung itu, ada kapal besar yang bersandar di pelabuhan tersebut, kapal itu dari makasar. Setelah kapal bersandar, turunlah awak kapal dan pemilik dari kapal tersebut untuk makan. La Ngginipun melayani awak-aawak serta juragan kapal. Tak di sangka kecantikan La Nggini membuat juragan kapal jatuh hati. Diapun mencari tau siapa La Nggini lewat sahabat La Nggini itu.  Sahabatnyapun menyampaikan maksud juragan itu kepada La Nggini akan tetapi La Nggini tidak menanggapinya. Karena tergiur aka harta yang di iming-imingi oleh juragan tersebut, sahabatnya itu rela menjebak La Nggini dengan menfitnahnya telah melakukan perbuatan yang terlarang dengan juragan kapal tersebut. Karena fitnah yang telah disebarkan oleh  sahabatnya itu, warga desapun marah dan menuduh akibat perbuatan la nggini itulah yang menjadi  penyebab dari bencana-bencana yang menimpa desa mereka. Karena tidak tahan dengan hinaan, cacian dan fitnah dari orang kampung La Ngginipun pergi ke sebuah gunug yang menghadap ke pantai.

Berminggu-minggu dia berada disana pendudukpun tau bahwa La Nggini tidak bersalah dan semua itu hanya fitnah yang di lakukan oleh sahabtnya. Hal itu, membuat teman-teman suaminya merasa kasihan padanya, dan merekapun menyampaikan keadaan la nggini, ina male, ompu nggaro dan ompu wila yang hidup menderita setelah kepergian la ngusu. Merekapun menceritakan bahwa iIna Male, OmpuNnggaro dan Ompu Wila telah meninggal. Mengdengar cerita temannya itu, La Ngusupun begitu merasa bersalah dan ingin pulang ke kampung halamannya. La ngusu pun mengutarakan niatnya kepada tuannya. Dan tuannyapun merasa kasihan sehingga ia memberikan ijin ,

Setelah mendapat ijin La Ngusu ingin menghadiahi istrinya itu dengan membelikannya sebuah kapal dan iapun pulang dengan menggunakan kapalnya sendiri.  Di tengah laut, kapal yang ditumpangi La Ngusu tenggelam , kabar itupun sampai ke telinga la nggini hingga membuatnya begitu hancur dan terpuruk. Ia berdiri di situ dari subuh sampai fajar. dari duhur sampai isya. dari hari ke hari. dari minggu ke minggu. dari bulan ke bulan. sampai tahun menjadi berbilang. Ia tetap berdiri menunggu dan terus menunggu suaminya. Hingga disaat tubuhnya sudah mulai lemah dan rapuh dia mengatakan jika aku tidak bisa bertemu dengan suamiku lebih baik aku menjadi batu.

 

WADU NTADA RAHI

 

wara ku sabua hidi ngarana wadu ntada rahi
tapa ndiha ba dou di rasa ba ne’e na lao ta rahina

teka, teka na doro
ntada, ntada ka lao
ade na mala lai
ntada rahi ma lao

auku ncara ra kancaruna sampe ndadi kaina wadu
ede pa tangara kai ba dou wadu, wadu ma tanda rahi

teka, teka na doro
ntada, ntada ka lao
ade na mala lai
ntada rahi ma lao

Terjemahan:

BATU YANG MENATAP SUAMI

ada suatu tempat yang bernama batu yang menatap suami
di hadang oleh orang satu kampung karena ingin pergi ke suaminya

naik, naik kebukit
menatap, menatap termenung
hatinya yang sakit
melihat suami yang pergi

apakah salahnya, sampai dia menjadi batu
oleh karena itu di namakan oleh orang batu, batu yang menatap suami

naik, naik kebukit
menatap, menatap termenung
hatinya yang sakit
melihat suami yang pergi

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *